Jalan ke kawasan ini adalah jalan propinsi dan telah dibangun dan bisa dilewati kendaraan roda dua atau roda empat. Silahkan berkunjung, masyarakat yang ramah siap mengantar anda ketempat tujuan…!! Lokasi eluh bru Tinambunan juga merupakan tapal batas antara Kabupaten Pakpak Bharat dengan Kabupaten Humbang Hasundutan.
Tampilkan postingan dengan label Investasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Investasi. Tampilkan semua postingan
Informasi Investasi Bidang Pariwisata
Rabu, 21 Maret 2012 | 10.09|
Banyak sekali peluang investasi di Kabupaten Pakpak Bharat yang belum di explorasi dan ditangani dengan serius, hal ini terkait dengan anggaran daerah yang masih terbatas. Untuk itu, diharapkan investor yang berminat untuk mengembangkan objek wisata di Pakpak Bharat mengingat perkembangan Kabupaten ini yang cukup pesat dan berada diantara beberapa Kabupaten. Akses jalan terus diperbaiki dan iklim usaha terkait perizinan juga sudah dipermudah melalui Kantor Pelayanan Perizinan Satu Pintu maka sudah selayaknya para investor melirik Kabupaten Pakpak Bharat sebagai potensi yang besar khususnya dibidang pariwisata.
Beberapa potensi yang dapat dijadikan sebagai objek wisata di Kabupaten Pakpak Bharat yang butuh investor untuk mengembangkannya adalah sebagai berikut :
Sampuren Lae Mbilulu
Satu lagi objek wisata lokal di kabupaten Pakpak Bharat yaitu Air Terjun "Sampuren Simbilulu". Letaknya di Kecamatan Tinada Desa Prongil. Jalan menuju lokasi ini masih dalam tahap pembangunan, kedepan objek wisata ini pasti bisa diandalkan karena potensi keindahannya apalagi ditata sedemiakian rupa.
Eluh Berru Tinambunen
Ada cerita yang melegenda di masyarakat pakpak, yaitu Cerita Bru Tinambunen dari Pakpak Suak Kelasen. Cerita ini melahirkan legenda berupa mata air yang tidak pernah kering walau musim kemarau berkepanjangan. Diyakini ini adalah bekas air mata Bru Tinambunen saat menagis.
Terletak di kaki "Delleng Simpon" Desa Rumerah Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu.
Jalan ke kawasan ini adalah jalan propinsi dan telah dibangun dan bisa dilewati kendaraan roda dua atau roda empat. Silahkan berkunjung, masyarakat yang ramah siap mengantar anda ketempat tujuan…!! Lokasi eluh bru Tinambunan juga merupakan tapal batas antara Kabupaten Pakpak Bharat dengan Kabupaten Humbang Hasundutan.
Jalan ke kawasan ini adalah jalan propinsi dan telah dibangun dan bisa dilewati kendaraan roda dua atau roda empat. Silahkan berkunjung, masyarakat yang ramah siap mengantar anda ketempat tujuan…!! Lokasi eluh bru Tinambunan juga merupakan tapal batas antara Kabupaten Pakpak Bharat dengan Kabupaten Humbang Hasundutan.
Pemandangan Alam Delleng Simpon
Untuk mewujudkan cita-cita ini, satu opini adalah pembangunan Wisata Adat Pakpak Lima Suak di Delleng Simpon Kabupaten Pakpak Bharat. Pemerintah Kabupaten Pakpak Bharat memiliki potensi yang besar untuk mewujudkan ini. Harus ada gebarakan besar pembangunan di Kabupaten Pakpak Bharat khususnya yang mengarah pelestarian budaya Pakpak sekaligus bernilai ekonomi yang bisa menggerakkan roda pembangunan Kabupaten ini. Kabupaten Pakpak Bharat kedepan harus bisa jadi pusat budaya dan pustaka visual budaya Pakpak.
1. Delleng Simpon yang memiliki panorama alam yang sangat indah memiliki nilai wisata yang menarik untuk dikunjungi. Delleng simpon adalah puncak gunung tertinggi di Kabupaten Pakpak Bharat. Selama ini Delleng Simpon menjadi daerah tujuan wisata lokal yang ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah. Tak hanya masyarakat Pakpak, para pendatang dari daerah lainpun kagum akan keindahan dari panorama alam Delleng Simpon.
2. Kawasan Delleng Simpon merupakan batas wilayah pemerintahan Kabupaten Pakpak Bharat dengan Kabupaten Humbang Hasundutan. Kawasan disekitar Delleng Simpon memiliki peninggalan-peninggalan budaya yang tinggi seperti Legenda Mata Air Eluh Berru Tnambunan, Perkemenjenan (kebun kemeyan) sebagai mata pencarian masyarakat, Barati untuk Merbanto, situs-situs budaya seperti Mejan, Rumah Adat, Lae Merah (sungai yang berwarna merah alami) serta Legenda Silaan di Desa Ulumerah;
3. Berada di kawasan jalan propinsi yang mudah untuk dikunjungi.
Objek Wisata Lae Une
Satu lagi rahmat Tuhan ada disini. Air Terjun Lae Une. Berada di Kecupak, sekitar 7 Km dari Kota Salak ibu kota Kabupaten Pakpak Bharat. Jika suatu hari anda berkunjung ke Salak, jangan lupa untuk singgah ke tempat ini. Air terjun ini cukup terkenal sebagai objek wisata lokal di Kabupaten Pakpak Bharat.
Sampai saat ini pengunjung bebas masuk ke lokasi Lae Une tanpa dikenakan pungutan retribusi. Keindahan Air Terjun Lae Une, walau belum mendapat penataan dan fasilitas yang memadai mampu mengundang kekaguman setiap orang yang melihatnya. kesejukanya dapat membuat orang terelena berlama lama di lae une,bahkan tanpa mandi merupakan sebuah kerugian yang besar apa bila berkunjung ke sini. keindahanya membuat kita lupa kalo punya hutang. alangkah indahnya ciptaan tuhan yang diberikan kepada manusai, agar manusia selalu ingat kepada sang pencipta, kususnya lae une.
10.09 | 3
komentar | Read More
Informasi Investasi Bidang Pertanian di Pakpak Bharat
Selasa, 20 Maret 2012 | 14.35|
Sektor Pertanian khususnya bidang tanaman pangan merupakan sektor yang memiliki peranan yang cukup penting. Khusus di Kabupaten Pakpak Bharat sektor tanaman pangan merupakan sektor yang dominan dan mendapat perhatian khusus dari pemerintah karena sebagian besar mata pencaharian penduduk Kabupaten Pakpak Bharat adalah umumnya hidup dari bertani.Salah satu komoditi unggulan yang mendapat perhatian khusus adalah komoditi padi sawah. Pertanaman padi sawah di Kabupaten Pakpak Bharat tersebar di 8 (delapan) kecamatan. Adapun sebaran luas sawah dapat dilihat pada tabel berikut ini:
| No | Kecamatan | Luas Lahan Sawah (Ha) |
| 1 | Salak | 243 |
| 2 | Kerajaan | 458 |
| 3 | STTU Jehe | 131 |
| 4 | STTU Julu | 218 |
| 5 | Pergetteng-getteng Sengkut | 141 |
| 6 | Siempat Rube | 211 |
| 7 | Tinada | 283 |
| 8 | Pagindar | 13 |
| TOTAL | 1.698 | |
Yang menjadi dasar komoditi padi sawah sebagai komoditi unggulan adalah sebagai berikut :
- Padi Sawah adalah salah satu komoditi unggul nasional yang harus dikembangkan secara nasional.
- Beras merupakan bahan pangan utama di Kabupaten Pakpak Bharat.
Permasalahan-permasalahan yang sering ditemukan untuk pengembangan padi sawah di Kabupaten Pakpak Bharat adalah :
- Belum adanya varietas benih unggul padi sawah hibrida yang sesuai dengan agroklimat di Kabupaten Pakpak Bharat, mayoritas petani masih menggunakan varietas lokal seperti si angkat, si berru lembeng, si ramos dan sebagian petani menggunakan benih unggul padi sawah non-hibrida Ciherang tetapi varietas ini tidak dapat digunakan di semua wilayah kabupaten Pakpak Bharat.
- Pengolahan lahan masih menggunakan sistem tradisional yang dilakuan secara turun temurun.
- Irigasi persawahan yang belum maksimal, sebagian besar lahan sawah masih menggunakan air hujan (Sawah tadah hujan)
- SDM Petani yang masih rendah.
- Adanya alih fungsi lahan sawah menjadi lahan pertanian atau permukiman.
Adapun upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah pengembangan padi sawah tersebut adalah sebagai berikut :
- Mendukung tanaman padi sawah sebagai komoditi unggulan bidang tanaman pangan dan hortikultura.
- Melaksanakan kegiatan SL-PTT (Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu) Padi Sawah yang bersumber dana dari Kementerian Pertanian melalui Dirjen Tanaman Pangan. Pada kegiatan ini petani akan mendapatkan informasi tentang teknologi pengembangan padi sawah mulai dari penggunaan benih sampai dengan pasca panen. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan SDM petani akan bertambah dan produksi padi sawah akan meningkat.
- Rehabilitasi jaringan tersier. Yaitu dengan melakukan perbaikan pada irigasi tersier yang rusak atau irigasi teriser yang belum dapat digunakan secara maksimal. Dengan adanya kegiata ini maka pengairan di persawahan dapat diatur dengan baik dan Indeks Pertanaman (IP) padi sawah dapat menjadi 3 kali tanam dalam setahun.
- Membuat penangkar benih padi sawah. Untuk membantu petani memperoleh benih padi, Dinas Pertanian dan Perkebunan membuat penangkar padi sawah dimana petani membeli benih hanya dengan membayar PAD yaitu sebesar 25% dari harga pasar.
Dengan dilaksanakannya kegiatan-kegiatan tersebut di atas maka diharapkan Pakpak Bharat dapat swasembada beras.
14.35 | 2
komentar | Read More
Pakpak Bharat Pertahankan Tanaman Nilam
Senin, 21 November 2011 | 08.55|

Tanaman nilam pernah mencuatkan sebuah fenomena karena harga jualnya mencapai Rp 6 juta per kg. Proses produksi penyulingan hingga menghasilkan minyak ini selain digunakan sebagai bahan baku kosmetik dan obatan-obatan, juga sebagai minyak pesawat. Namun secara perlahan, petani yang mengolah pertanaman nilam makin menyusut seiring dengan harganya yang juga merosot di pasaran.
Begitupun, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pakpak Bharat tetap mempertahankan tanaman nilam karena diharapkan masih bisa dikembangkan. "Permintaan juga masih tetap ada kok. Meski jumlahnya juga sudah jauh berkurang dibandingkan lima atau enam tahun yang lalu," ujar Eva Berutu, staf anjungan Pakpak Bharat, kepada MedanBisnis, Jumat (15/4), di arena Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU).
Menurut Eva, saat ini petani nilam di Pakpak Bharat ada di daerah Sibande Kecamatan Sitelu Tali Urang Jahe. "Jumlahnya tinggal sedikit. Karena setengah dari warga yang dulunya petani nilam, sekarang sudah memilih menekuni tanaman pangan dan hortikultura," ungkapnya.
Dikatakan Eva, panen nilam dilakukan sebulan sekali. Karena daun yang dipetik, akan kembali tumbuh optimal setelah sebulan masa panen. "Kalau dipetik lagi sebelum waktunya genap sebulan, daunnya tidak akan tumbuh secara optimal. Dan, itu akan mengurangi hasil produksi," katatanya.
Untuk mendapatkan 1 kg minyak nilam, terang Eva, dibutuhkan sekitar 6-10 goni daun nilam. "Kalau daunnya selebar telapak tangan, itu artinya tumbuh dengan baik. Kalau kualitas daunnya seperti itu, paling dibutuhkan 6 goni untuk menghasilkan 1 kg minyak nilam," katanya.
Ia menambahkan, saat ini, produksi nilam dari Pakpak Bharat dipasarkan ke Medan. Pasalnya, pasaran Medan menjadi daerah paling potensial terutama untuk minyak nilam yang telah diolah menjadi minyak urut. Tanaman nilam ini, masih memiliki nilai pasar yang tinggi. Namun, kendala yang ditemui masyarakat di Pakpak Bharat untuk mengembangkannya adalah terbatasnya lahan yang dimiliki warga.
"Makanya sejumlah petani nilam memilih beralih ke tanaman pangan dan hortikultura. Karena mereka tidak bisa terus mempertahankan tanaman nilam yang harganya memang terus merosot,” jelasnya.
Begitupun, lanjut Eva, Pemkab akan terus mempertahankan tanaman nilam ini karena termasuk tanaman yang jumlahnya kini semakin terbatas terlebih di daerah ini dengan masyarakatnya yang mayoritas petani. Karena petani yang tetap mempertahankan nilam ini yakin harganya akan kembali naik apalagi kini olahannya lebih banyak difokuskan pada minyak urut. (elvidaris simamora)
dikutip dari :www.medanbisnisdaily.com
08.55 | 0
komentar | Read More
Pakpak Bharat akan Kembangkan Cabai

Saat ini, cabai termasuk kebutuhan pokok yang permintaannya cukup tinggi di pasaran. Bahkan, cabai termasuk salah satu penyumbang tingginya inflasi di tanah air termasuk di Sumatera Utara (Sumut) karena harganya yang melambung tinggi di awal tahun ini. Tidak heran, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pakpak Bharat, tertarik untuk mengembangkan tanaman hortikultura tersebut.
“Cabai yang akan dikembangkan di Pakpak Bharat ini memiliki spesifikasi yang hampir sama dengan cabai yang diproduksi dari daerah-daerah lain di Sumut yakni cabai merah keriting,” kata Eva Berutu, staf paviliun Pakpak Bharat, kepada MedanBisnis, Senin (11/4), di sela-sela kegiatan Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU), di Medan.
Menurutnya, pengembangan cabai merah ini untuk memenuhi pasar lokal. Sehingga ketika harga cabai melambung karena pasokan sedikit yang diakibatkan anomali cuaca, misalnya, masyarakat Pakpak Bharat masih bisa mengonsumsi cabai karena produk lokal masih mencukupi.
Dikatakan Eva, prospek tanaman cabai di Pakpak Bharat memang cukup potensial karena masih memiliki lahan pertanian yang tidak ditanami seluas 162 hektare. Saat ini, Kabupaten Pakpak Barat memiliki luas tanaman pangan lahan kering 7.977 hektare. "Hampir semua tanaman dari lahan ini bisa panen dengan dengan jumlah produksi di atas rata-rata. Itu menunjukkan, kondisi alam di Pakpak Bharat sangat potensial dalam pengembangan tanaman hortikultura," kata Eva.
Umumnya kata dia, penanaman cabai di Pakpak Bharat digarap secara tradisional. "Jadi masyarakat belum terkontaminasi dengan teknologi, makanya hasil tanamannya masih murni, tanpa bahan-bahan kimia," katanya.
Untuk pengembangan tanaman cabai Eva mengatakan hampir seluruh wilayah di Kabupaten Pakpak Bharat potensial karena memiliki tanah dengan topografi yang sama. "Dari luas lahan sekitar 162 hektare yang tidak ditanami, yang berpotensi untuk mengembangkan cabai sekitar 112 hektare. "Dari luas lahan ini, diperkirakan bisa memproduksi cabai sebanyak 1.726,6 ton atau sekira 15,4 ton per hektare," kata Eva. (elvidaris simamora)
dikutip dari : www.medanbisnisdaily.com
08.53 | 0
komentar | Read More
Nenas Manis, Untung Manis

Meski harga nenas kini sedang murah, namun Liman yang baru 4 bulan berjualan nenas merasa beruntung dari usahanya berdagang nenas. Ia mengaku hanya bermodal Rp 200.000 untuk membeli nenas dari agen dan menjualnya kembali di Jalan Sekip.
"Alhamdulillah, paling tidak setiap hari bisa mendapat keuntungan Rp 75.000," katanya kepada MedanBisnis, Kamis (22/9). Ia menuturkan, nenas yang ia jual berasal dari berbagai daerah tergantung pada musimnya. Menurutnya, di bulan September, buah nenas berasal dari Labuhan Batu dan Rantauparapat. Sementara sebulan sebelumnya berasal dari Deli Serdang. "Rasanya tidak jauh beda, tetap saja manis," katanya.
Setiap buahnya, ia menjual dengan harga Rp6000 - Rp8000. Setiap hari ia bisa menjual minimal 20 - 30 buah. "Sengaja diikat dengan tali, biar orang beli langsung 2," katanya. Namun ia tidak menolak jika ada pembeli yang hanya ingin membeli 1 buah saja. "Tapi kalau beli 2, harganya kita potong Rp1000," ujarnya.
Hartini, salah seorang pembeli mengaku dirinya membeli nenas untuk dijadikan rujak dan dijual kembali. "Saya berjualan rujak di Jalan STM. Tadi pagi belum belanja nenas di pasar, ini sekalian lewat, beli aja," katanya. (cw - 02)
dikutip dari :www.medanbisnisdaily.com
08.50 | 0
komentar | Read More
Pakpak Bharat Segera Bentuk Dewan Riset

Pemkab Pakpak Bharat segera membentuk Dewan Riset Daerah (DRD) untuk mengembangkan berbagai potensi kabupaten ini yang dikenal sebagai penghasil kopi, gambir, nenas, madu dan beberapa komoditi perkebunan dan kehutanan.
Demikian dikatakan Sekda Pakpak Bharat Hollder Sinamo pada sosialisasi pembentukan DRD se-Sumatera Utara, di aula Kantor Bappeda Pakpak Bharat, Rabu (21/9), di Salak, yang dihadiri antara lain para pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), asosiasi profesi dan LSM.
"Kita menyambut baik kehadiran tim DRD Sumut yang menyosialisasikan pembentukan DRD di kabupaten ini. Pak Bupati setuju dan merespon dengan baik," ungkapnya.
Dia menambahkan, keberadaan DRD penting untuk mendukung program kerja bupati, terutama para pimpinan SKPD di Dinas Pertanian, Kehutanan dan Pertambangan, dengan menyusun program berbasiskan riset dan pengembangan iptek.
Apalagi, paparnya, Pakpak Bharat memiliki potensi sumber daya alam yang besar, sehingga diharapkan ketiga SKPD ini menjadi sektor penggerak perekonomian berbasiskan SDA.
“Sebagai contoh, masyarakat kami banyak mempropduksi gambir, maka kita harus menjaga mutu dan meningkatkan kualitasnya, dengan melakukan penelitian tentang mengolah dan memproduksi gambir secara baik, " ujarnya.
Tim DRD Sumut yang meliputi Dairi, Pakpak Bharat dan Tanah Karo dipimpin Prof Dr Ilmi Abdullah MSc, didampingi sekretarisnya Azizul Kholis SE menyatakan siap mendukung Pemkab Pakpak Bharat yang begitu serius dalam membentuk DRD.
Ilmi menekankan bahwa dengan adanya DRD, maka diharapkan dapat membantu Pemda dalam merumuskan berbagai kebijakan pembangunan, khususnya dalam hal pengembangan iptek dan produk unggulan daerah.
Ia mengapresiasi kebijakan Pemkab Pakpak Bbarat yang mengalokasikan dana bantuan beasiswa sebesar Rp 20 juta/orang bagi setiap siswa sekolah SMA/K yang mampu lulus tes masuk di perguruan tinggi negeri (PTN) untuk mendorong semangat juang para putera daerah dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Menurutnya, apa yang dilakukan Pemkab Pakpak Bharat merupakan investasi jangka panjang di bidang peningkatan SDM.
Azizul Kholis menambahkan, DRD yang terdiri dari kalangan akademis, birokrat dan pengusaha tidak berperan sebagai lembaga pelaksana riset, melainkan hanya sebagai lembaga yang menyusun dan merumuskan arah kebijakan riset.
"Dengan demikian terjadi konsolidasi riset untuk pengembangan sumber daya iptek daerah, terkoordinasinya kegiatan-kegiatan lembaga penelitian dan pengembangan daerah serta terkondisinya hasil iptek yang sesuai dengan kebutuhan daerah untuk kesejahteraan masyarakat," jelasnya. (zainul abdi nasution)
dikutip dari :www.medanbisnisdaily.com
08.48 | 0
komentar | Read More
Strategi Pemanfaatan Peluang Investasi Produk Gambir

Tidak salah jika Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pakpak Bharat ingin menjadikan gambir sebagai ikon daerah yang baru dimekarkan itu. Alasannya sangat sederhana, karena Pakpak Bharat memiliki potensi yang luar biasa dalam menghasilkan gambir bermutu tinggi.
Bahkan di Indonesia, hanya dua propinsi yang dapat ditumbuhi tanaman gambir yakni Propinsi Sumiatera Utara (Sumut) tepatnya di Kabupaten Pakpak Bharat dan Solok, Propinsi Sumatera Barat (Sumbar). Kedua propinsi inilah yang memberi andil dalam memenuhi pasar gambir di tanah air termasuk pasar internasional.
Pekan lalu MedanBisnis mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Salak, ibukotanya Kabupaten Pakpak Bharat. Di sana, hampir semua daerah atau kecamatan ditumbuhi dengan tanaman gambir meski skalanya tidak terlalu luas. Namun, secara rata-rata, gambir adalah salah satu sumber penghasilan utama masyarakat setempat di samping kopi.
Meski belum dikelola secara modern namun masyarakat Kabupaten Pakpak Bharat tetap mempertahankan tanaman gambir sebagai penopang kebutuhan hidup keluarganya. Betapa tidak, tanaman gambir yang selama ini dikelola secara regenerasi atau turun temurun memberikan keuntungan yang luar biasa bagi masyarakat setempat. Itu karena dalam budidaya tanaman gambir tidak memerlukan perawatan intensif sementara harga jual relatif tinggi.
“Saat ini harga gambir memang sedang turun berkisar Rp 17.000 per kilogram (kg) dibanding bulan-bulan sebelumnya yang sempat mencapai antara Rp 25.000 hingga Rp 27.000 per kg.
Namun, karena perawatannya sangat mudah dan sederhana, petani tidak akan terlalu dirugikan bila harga turun menjadi Rp 17.000 per kg,” kata Bupati Pakpak Bharat Remigo Yolanda Berutu memulai obrolannya dengan MedanBisnis, di ruang kerjanya, Kantor Bupati Pakpak Bharat.
Begitupun bukan berarti Bupati lepas tangan terhadap turunnya harga gambir tersebut. Saat ini, Bupati bersama satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait tengah merencanakan adanya suatu lembaga untuk menampung seluruh hasil-hasil pertanian unggulan daerah tersebut khususnya getah gambir.
Bahkan menurut Bupati yang saat itu didampingi Asisten II bidang Administrasi dan Pembangunan Sustra Ginting, peraturan daerah (Perda) untuk pendirian semacam Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) bidang usaha menampung hasil-hasil pertanian khususnya komoditas unggulan telah disahkan. “Ini strategi atau solusi yang akan kami realisasikan untuk mengatasi persoalan harga produk pertanian petani yang kerap anjlok saat panen raya tiba,” katanya.
Dengan adanya lembaga tersebut, lanjut Remigo, petani akan diuntungkan karena harga yang ditawarkan selalu tinggi. Misalnya, bila harga gambir turun seperti sekarang ini yakni Rp 17.000 per kg, sementara harga kontrak yang telah disepakati sebelumnya dengan pihak perusahaan Rp 18.000 per kg maka lembaga tersebut akan membeli gambir sesuai harga kontrak.
Namun, bila harga pasar lebih tinggi dari harga kontrak yang disepakati katakanlah hingga mencapai Rp 27.000 per kg (harga pasar-red) maka petani boleh menjual getah gambirnya ke pasar meski diawal sebelumnya sudah ada kontrak antara lembaga dengan petani.
Artinya, kontrak atau kesepakatan yang telah disusun sebelumnya tidak berlaku permanen atau bisa berubah jika harga pasar memang lebih tinggi. “Jadi, sebelumnya antara lembaga dengan petani dalam hal ini kelompok tani akan membuat perjanjian terhadap harga getah gambir,” terang bapak tiga anak ini.
Karena hargalah yang selama ini menjadi kekhawatiran petani dalam mengembangkan tanaman gambir secara komersil. “Nah, dengan adanya lembaga ini, harga gambir bisa meningkat dari sekarang, hingga akhirnya petani terpacu untuk memanfaatkan lahannya untuk menanam gambir dan merawatnya dengan baik,” kata Remigo.
Dengan adanya lembaga BUMD tersebut selain dapat meningkatkan pendapatan petani juga mempermudah petani mengakses pasar luar negeri. Apalagi selama ini, getah gambir yang diproduksi petani di Pakpak Bharat tidak hanya mengisi pasar dalam negeri saja tapi juga pasar luar negeri seperti India, yang permintaan akan getah gambir cukup tinggi.
Bahkan 80% dari total kebutuhan gambir India dipasok dari Indonesia termasuk Pakpak Bharat. “Jangankan India, pasar dalam negeri kita saja hingga kini masih kurang apalagi untuk ke depannya, permintaan gambir akan jauh lebih besar mengingat manfaat gambir yang begitu luar biasa,” terang Bupati.
Alasan itu juga yang membuat Bupati Remigo Yolanda menjadikan gambir sebagai salah satu produk unggulan Pakpak Bharat yang siap mengisi pasar internasional. “Pasar sudah ada, tinggal bagaimana kita memanfaatkan pasar tersebut. Karena itu kita harus mempersiapkan sektor hulunya dalam hal ini budidaya tanaman gambir. Sehingga permintaan gambir bisa terpenuhi engan baik,” kata Bupati optimis. (junita sianturi)
dikutip dari : www.medanbisnisdaily.com
08.43 | 0
komentar | Read More
Gerakan Sejuta Gambir di Kabupaten Pakpak Bharat

Masih bersama Bupati Pakpak Bharat Remigo Yolanda. Dalam obrolannya dengan MedanBisnis, pekan lalu, Remigo mengatakan untuk mendukung pengembangan gambir di daerah itu, pihaknya telah membuat suatu gerakan, yakni Gerakan Sejuta Gambir.
Di mana gerakan yang dicanangkan tahun 2011 ini akan dilakukan secara massal khususnya di daerah-daerah yang memiliki kecocokan agroklimat untuk pengembangan tanaman gambir.
Gerakan sejuta gambir telah dimulai dengan melakukan pengembangan pembibitan gambir.
“Untuk mendukung gerakan sejuta gambir kami telah mengalokasikan dana sekitar Rp 1,3 miliar yang dialokasikan dari Dinas Pertanian. Sementara dari Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) mulai tahun 2006 sampai dengan 2011 jumlahnya sudah mencapai Rp 2,7 miliar,” jelasnya.
Untuk tahun 2011, dana yang dialokasikan sebesar Rp 1,3 miliar tersebut digunakan untuk pengadaan bibit tanaman gambir, perawatan benih serta sarana dan prasarana pembibitan.
Sedangkan dana yang dari Perindagkop digunakan untuk membeli alat pemroses gambir.
Alat ini menurut Remigo telah dibagikan ke masyarakat tani. Namun sejauh ini petani belum tertarik untuk memanfaat alat tersebut karena dianggap rumit. Padahal alat tersebut mampu menekan kehilangan getah gambir disbanding dengan menggunakan alat tradisional yang tingkat kehilangannya lumayan tinggi.
Begitupun, untuk sementara ini, pihaknya tidak akan memaksa petani untuk menggunakan alat modern tersebut. “Secara perlahan-lahan kami akan memberi pembelajaran kepada petani lewat penyulun-penyuluh pertanian bahwa penggunaan alat modern tersebut sangat penting,” jelasnya.
Dari perbincangannya dengan MedanBisnis, Bupati mengatakan, pengembangan gambir ini sudah dirancang sedemikian rupa. Di mana untuk tahun 2011, program yang dijalankan adalah menanam sejuta gambir secara massal dengan lahan seluas 500 hektare. Dan, untuk tahun 2015 diharapkan telah terbangun industri gambir.
“Kami berharap pembangunan industri olahan gambir bisa terlaksana mengingat getah gambir digunakan untuk industri obat-obatan, industri kosmetik, sebagai zat pewarna pada batik dan lain sebagainya,” katanya.
Bahkan pihaknya kata Bupati dengan Badan Litbang telah membahas olahan yang bisa dibuat dari bahan baku gambir. Dan, ternyata gambir bisa dibuat menjadi teh celup dan vitamin yang berbentuk tablet. “Untuk teh celup sendiri kami sudah cobakan dan hasilnya cukup baik. Dan, untuk industri pengolahan ini kami sudah menjalin kerja sama dengan beberapa pengusaha lokal,” jelasnya.
Tingginya semangat Bupati untuk mengembangkan tanaman gambir ini menurut Remigo dilatarbelakangi beberapa faktor, yakni karena gambir tanaman khas atau spesifik Kabupaten Pakpak Bharat, tanaman mudah dibudidayakan dan relatif tidak ada penyakit, tanaman yang komparatif dan kompetitif. Kemudian, gambir termasuk tanaman bernilai ekonomi tinggi, serta termasuk komoditas ekspor.
“Namun, hal yang paling utama karena gambir merupakan tanaman yang sudah membudaya di masyarakat bahkan sudah turun termurun atau regenerasi,” paparnya.
Tujuan pengembangan tanaman gambir ini menurutnya sangat sederhana, yakni meningkatkan pendapatan masyarakat, membuka lapangan pekerjaan serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi Pakpak Bharat.
Mengenai luas dan produksi gambir yang dihasilkan oleh Kabupaten Pakpak Bharat, menurut Remigo tiap tahun mengalami peningkatan meskipun tidak signifikan. Seperti tahun 2009, berdasarkan data yang dihimpun Dinas Pertanian dan Perkebunan Pakpak Bharat, luas tanaman gambir berkisar 1.050 hektare dengan total propduksi 1.523 ton atau rata-rata produktivitas berkisar 1.675,47 kg per hektare per tahun.
Sementara tahun 2010, luasnya bertambah menjadi 1.051 hektare dengan total perolehan produksi mencapai 1.524,50 ton atau rata-rata produktivitas yang diperoleh berkisar 1.677,12 kg per hektare per tahun. “Dengan adanya gerakan sejuta gambir ini dan rencana pembentukan Badan Usaha Milik Daerah yang akan menampung hasil-hasil pertanian unggulan, kami berharap masyarakat semakin tertarik untuk membudidayakannya, apalagi saat ini pasar gambir semakin terbuka,” kata Remigo penuh semangat.
Berdasarkan data yang diperoleh MedanBisnis dari Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Pakpak Bharat Mukhtar AW, sentra pengembangan tanaman gambir berada di Kecamatan Sitellu Tali Urang (STU) Jehe seluas 582 hektare diikuti Kecamatan Kerajaan seluas 117 hektare dan Kecamatan Tinada seluas 114 hektare. “Sedangakan kecamatan lainnya luasannya kecil-kecil,” terang Mukhtar.
Namun, untuk tahun ini, lanjut Mukhtar, pengembangan gambir akan dilakukan seluas 500 hektare. Akan tetapi, untuk tahun 2012 hingga tahun 2014, pengembangan tanaman gambir akan dilakukan seluas 200 hektare per tahun. (junita sianturi)
dikutip dari :www.medanbisnisdaily.com
08.41 | 0
komentar | Read More
Komitmen Bupati Pakpak Bharat untuk Membantu Investor

Berbicara tentang buah nenas, hal pertama yang muncul dalam benak seseorang adalah rasanya yang asam, yang membuat orang harus mengerutkan dahinya. Namun, untuk nenas Pakpak Bharat tidak diragukan lagi. Rasa dan aromanya dijamin tidak mengecewakan konsumen yang membeli dan mengonsumsinya.
Hal itu juga yang mendasari nenas Pakpak Bharat dikukuhkan sebagai varietas unggul sesuai dengan SK Pelepasan oleh Menteri Pertanian RI No.321/Kpts/SR.120/5/2007 dengan nama Nenas Pakpak. "Jadi, nenas Pakpak Bharat ini sudah dilepas sebagai varietas unggul. Dan, kita bangga akan hal itu karena Pakpak Bharat memiliki komoditas yang punya nilai jual di samping komoditas lainnya seperti gambir, nilam dan kopi. Tinggal bagaimana kita mengemasnya," kata Bupati Pakpak Bharat Remigo Yolando Berutu kepada MedanBisnis, belum lama ini di ruang kerjanya.
Menurut Remigo didampingi Wakil Bupati H Maju Iliyas Padang, Sekdakab Holler Sinamo dan Assisten Administrasi dan Pembangunan (Assisten II) Sustra Ginting, dalam tiap pameran pertanian baik yang diselenggarakan pemerintah daerah, propinsi maupun pusat, nenas Pakpak Bharat selalu diikutsertakan bersama komoditas unggul lainnya.
Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga telah mengakui kualitas nenas Pakpak Bharat pada Pekan Nasional (Penas) di Palembang tahun 2007 lalu. "Kalau Bapak Presiden sendiri sudah mengakui keunggulan nenas kita ini, mengapa tidak kita kembangkan," katanya.
Karena itulah kata mantan Wakil Bupati Pakpak Bharat periode Juni 2008 - 2010 ini, pihaknya membuka diri bagi investor baik lokal maupun asing yang ingin berinvestasi di Kabupaten Pakpak Bharat. "Kami akan menyambut dengan tangan terbuka dan siap membantu dengan memberikan berbagai kemudahan perizinan dan lain sebagainya bagi investor yang ingin berinvestasi di sektor pertanian dan sektor-sektor lainnya. Apakah itu di industri hulunya ataupun di industri hilirnya," aku bapak tiga anak ini.
Kemudahan yang akan diberikan pihaknya menurut pria kelahiran 6 September 1969 ini, terutama soal perizinan dan infrastruktur. "Kalau soal infrastruktur, kita akan benahi secara bertahap tetapi khusus untuk investor kita akan prioritaskan. Intinya, kami siap membantu investor yang ingin berinvestasi di Pakpak Bharat," kata Bupati mantap.
Menurut Remigo, banyak potensi yang bisa dijual dari Kabupaten Pakpak Bharat ke investor terutama dari sektor pertanian yang menjadi andalan daerah ini. Sebut saja di antaranya, gambir, kopi, nilam, nenas, kemenyan dan jeruk. "Jerukpun saat ini sudah banyak dikembangkan masyarakat Pakpak," ujarnya.
Mengenai potensi lahan, Bupati mengatakan, masih sangat luas. Sejauh ini penggunaan lahan di Pakpak Bharat untuk lahan sawah berkisar 1.622 hektare, lahan pekarangan 2.093,4 hektare, lahan tegal 1.306,5 hektare, penggembalaan 2.227 hektare, hutan negara 87.760 hektare, hutan rakyat 2.250 hektare, perkebunan 8.521,5 hektare dan lahan kering tidak diusahakan luasnya mencapai 16.049,6 hektare.
"Nah, investor bisa memanfaatkan lahan kering yang luasnya mencapai 16.049,6 hektare itu untuk mengembangkan apa saja yang dianggapnya menguntungkan termasuk pengembangan budidaya nenas ini," ujar Remigo.
Jumlah lahan kering yang belum dimanfaatkan itu juga menurut Remigo bisa ditambah lagi dari luas lahan perkebunan yang ada. "Karena menurut catatan kami, dari 8.521,5 hektare lahan perkebunan, ada sekitar 1.063,9 hektare yang pemanfaatannya belum optimal. Jadi, dari segi lahan masih sangat-sangat memungkinkan untuk dimanfaatkan investor," katanya lagi.
Khusus untuk nenas, kata Bupati, dari segi budidaya tidak perlu perawatan intensif dalam arti kata, sangat mudah dengan biaya produksi yang rendah. Begitu juga dengan serangan hama dan penyakit relatif rendah sementara harga jual selalu tinggi. Karena itulah, untuk tahun 2012, pihaknya melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan akan mencoba pengembangan industri hilir nenas, seperti pembuatan sirup dan selai nenas. Sehingga nilai jualnya menjadi lebih tinggi lagi dibanding dengan menjual buah dalam bentuk segar.
"Memang dengan menjual nenas dalam bentuk buah segar, petani sudah diuntungkan karena harganya yang cenderung tinggi dan stabil apalagi biaya produksinya sangat murah. Namun dengan adanya diversifikasi tersebut tentunya akan menambah nilai tambah produk itu sendiri yang akhirnya dapat meningkatkan pendapatan petani," ujarnya. (junita sianturi)
dikutip dari : medanbisnisdaily.com
08.36 | 0
komentar | Read More
Nenas Pakpak

"Menanam nenas jauh lebih menguntungkan dibanding komoditas hortikultura lainnya. Selain perawatannya mudah dan murah, harga jual nenas juga tinggi. Dan, dalam sehari saya bisa menjual buah nenas sekitar 30 buah dengan harga jual rata-rata Rp 5.000. Tidak hanya itu, nenas Pakpak dari dulu sudah sangat terkenal sehingga tidak sulit untuk memasarkannya."
Itulah pengakuan Jamiatul Banurea, salah seorang petani nenas di Desa Boangmanalu, Kecamatan Salak, Kabupaten Pakpak Bharat yang ditemui MedanBisnis, belum lama ini di desa tersebut.
Menurut Jamiatul, dengan sistem penjualan langsung yang dilakukannya sendiri laba yang diperoleh jauh lebih banyak ketimbang menjualnya dengan agen atau pedagang pengumpul. Buah-buah nenas yang dipanen dari kebunnya itu dipajangnya persis di depan rumahnya yang memang berada di pinggir jalan raya.
"Kalau kita menjual langsung, harga yang kita buat bervariasi tergantung dari besar kecilnya buah. Kalau ukurannya besar, harganya bisa Rp 7.000 - Rp 8.000 per buah tapi kalau ukurannya kecil biasanya saya jual Rp 10.000 untuk tiga buah," aku pria berusia 45 tahun ini.
Namun, bila dirata-ratakan harga nenas yang dijualnya Rp 5.000 per buah. Dengan harga tersebut, dalam sebulan ia bisa memperoleh pendapatan berkisar Rp 4,16 juta atau berkisar Rp 50 juta dalam setahun. "Uang yang diperoleh lumayan, bisa menutupi kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah anak-anak dan sisanya untuk ditabung," katanya tersenyum.
Biasanya kata dia, pembeli yang datang ke "kios"nya adalah pendatang dari luar daerah Pakpak Bharat, seperti dari Medan untuk dijadikan oleh-oleh. "Mereka (pembeli-red) yakin kualitas nenas yang kita jual tidak akan mengecewakan tidak seperti nenas-nenas dari daerah lainnya yang rasanya terkadang asam," ujarnya.
Budidaya nenas sudah dilakukan bapak dua putra dan tiga putri ini sejak lima tahun silam. Tingginya harga jual nenas dan selalu stabil membuat Jamiatul meninggalkan tanaman kopi ateng yang sebelumnya dibudidayakannya.
Menurutnya, tanaman kopi banyak risiko terutama soal harga yang selalu fluktuatif mengikuti harga luar negeri dan cenderung turun di samping tingginya biaya produksi yang harus dikeluarkan untuk membeli pupuk dan obat-obatan. Apalagi saat ini, tanaman kopi banyak diserang hama dan penyakit sehingga produksinya menurun.
"Tadinya, tidak semua lahan kopi saya gunakan untuk menanam nenas, hanya sebagian saja. Tapi, karena menanam nenas jauh lebih ringan perawatannya maka tanaman kopi yang adapun saya bongkar semuanya dan saya alihkan ke tanaman nenas. Jadi, nenas yang saya tanam sekarang ini masih 4.000 pokok," terang Jamiatul.
Bicara tentang budidaya, Jamiatul mengaku, menanam nenas sangat mudah dan nyaris tanpa biaya yang berarti. Dengan menggunakan bibit lokal unggul, nenas yang ditanam sudah dapat berproduksi saat berumur 1,5 tahun. "Keunikan dari menanam nenas ini adalah anakannya atau tunas-tunas baru yang terus tumbuh. Jadi, kita tidak susah lagi untuk menanamnya kembali saat nenas sudah dipanen. Jumlah anakan yang tumbuh juga banyak dan anakan itu akan berbuah," sebutnya.
Biasanya kata dia, ukuran buah pada anakan pertama, kedua dan ketiga akan lebih besar untuk selanjutnya, ukuran buah berkurang. Namun, soal rasa dan aroma tidak akan berpengaruh, artinya rasa dan aroma nenas Pakpak Bharat tetap manis, renyah dan wangi.
Sedangkan terhadap pupuk yang diberikan, Jamiatul mengaku untuk saat ini tanaman nenasnya belum diberi pupuk dan hanya mengandalkan unsur hara yang ada di dalam tanah saja. Hanya saja yang menjadi masalah selama ini adalah serangan hama berupa tikus dan musang. Tapi itu juga menurutnya tidak terlalu berarti.
Sementara untuk penyakit sejauh ini belum ada. "Intinya, biaya produksi yang saya keluarkan selama menanam nenas ini hanya tenaga dan biaya pestisida untuk membasmi gulma atau rumput. Itu juga tidak terlalu sering dan besar," akunya.
Jadi kata Jamiatul lagi, membudidayakan nenas sangat-sangat menguntungkan tidak seperti tanaman hortikultura lainnya seperti jeruk atau juga tanaman perkebunan seperti kopi yang membutuhkan biaya besar di samping perawatan yang butuh perhatian.
Mengenai bibit yang digunakan, ia mengaku menggunakan bibit nenas lokal. "Nenas Pakpak Bharat dari dulu sudah terkenal dengan rasanya yang manis dan renyah serta aromanya yang wangi. Jadi, kalau untuk bibit saya menggunakan bibit nenas lokal. Apalagi, nenas Pakpak Bharat sudah dipatenkan oleh Kementerian Pertanian (Kementan) sebagai produk unggulan lokal Sumatera Utara dalam hal ini Kabupaten Pakpak Bharat," ujarnya. (junita sianturi)
dari : medanbisnisdaily.com
08.32 | 0
komentar | Read More
Investasi Perumahan di Kabupaten Pakpak Bharat
Senin, 08 Maret 2010 | 13.16|
Investor akan membangun perumahan di Kabupaten Pakpak Bharat berlokasi di Desa Jambu Kec. Siempat Rube Kab. Pakpak Bharat. Sesuai permohonan izin mendirikan bangunan (IMB) yang diajukan ke Kantor Pelayanan Perizinan Satu Pintu dan Penanaman Modal Kab. Pakpak Bharat, sebanyak 98 unit untuk tahap pertama dan 100 unit untuk tahap kedua.
Pembangunan ini diyakini akan terealisasi karena keseriusan pihak investor dan didukung oleh pemerintahan setempat. Dengan terealisasinya pembangunan perumahan ini diharapkan akan dapat meningkatkan pembangunan di Kabupaten Pakpak Bharat terutama masalah ekonomi. Jumlah mobilisasi pegawai dari Pakpak Bharat ke Dairi secara otomatis akan berkurang karena semakin banyak nantinya pegawai tinggal di Pakpak Bharat, sehingga perputaran ekonomi dapat meningkat.
(KP2SP-PM, 08/03/10)
13.16 | 0
komentar | Read More
Malaysia Investasi Pengembangan Nilam Seluas 20 Ha di Pakpak Bharat
Jumat, 31 Juli 2009 | 11.57|

Terkenal dengan daerah penghasil nilam, pada pagelaran Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-37 ini, Kabupaten Pakpak Bharat mempromosikan minyak nilam. Promosi ini diharapkan dapat mengundang investor untuk menanamkan investasinya di Pak-pak Bharat.
â€Å“Melalui pameran PRSU ini kita menargetkan ada investor yang berminat mengembangkan perkebunan nilam di Pakpak Bharat. Hal ini mengingat pengelolaan perkebunan nilam saat ini masih secara tradisional, dampaknya produksi belum bisa ditingkatkan,†kata Awang Kurnian, salah seorang tim nilam, didampingi Hotman selaku petugas di Paviliun Pakpak Bharat. Dikatakannya, produksi nilam secara keseluruhan di Phakpak Bharat tergolong masih minim yakni selitar 500kg/tahun. Namun demikian, produksi ini bisa bertambah jika pengelolaannya sudah menggunakan teknologi modren. Semisal dengan budidaya yang terjadwal dan cara tanam yang baik. Selain itu, produksi juga bisa ditingkatkan dengan pemilihan bibit unggul secara selektif.
â€Å“Saat ini memang sudah ada investor dari Malaysia yang menginvestasikan lahannya untuk pengembangan kebun nilam seluas 20 ha di Kecamatan Sitelu Tali Urang Jehe (STUJ). Dengan investasi ini, Pemkab Pakpak Bharat mengharapkan ada peningkatan produksi dan pengolahan turunannya,lanjut Awang, seraya menambahkan produk turunan yang dimaksud seperti minyak wangi.
Ditambahkannya, meski sudah menjadi tumpuan hidup sebagian besar penduduk, pengolahan nilam belum begitu dikenal di Pakpak Bharat. Artinya, yang dilakukan petani selama ini hanyalah menjual minyak mentah bagi pengusaha maupun investor yang berminat. Untuk kemudian diekspor oleh pedagang pengumpul tersebut ke negara tujuan ekspor, seperti Malaysia dan negara-negara di Eropa.
â€Å“Budidaya nilam ini sendiri sebenarnya cukup mudah, proses penanamannya dapat dilakukan dengan menanam bibit, batang, atau pucuknya. Terlebih dahulu ditanam di polibeg selama 4 hingga 6 minggu. Setelah itu, bibit sudah siap tanam, dan akan berproduksi 6-7 bulan kemudian,†jelasnya. (M35/g)
* Source Harian Sinar Indonesia Baru
â€Å“Melalui pameran PRSU ini kita menargetkan ada investor yang berminat mengembangkan perkebunan nilam di Pakpak Bharat. Hal ini mengingat pengelolaan perkebunan nilam saat ini masih secara tradisional, dampaknya produksi belum bisa ditingkatkan,†kata Awang Kurnian, salah seorang tim nilam, didampingi Hotman selaku petugas di Paviliun Pakpak Bharat. Dikatakannya, produksi nilam secara keseluruhan di Phakpak Bharat tergolong masih minim yakni selitar 500kg/tahun. Namun demikian, produksi ini bisa bertambah jika pengelolaannya sudah menggunakan teknologi modren. Semisal dengan budidaya yang terjadwal dan cara tanam yang baik. Selain itu, produksi juga bisa ditingkatkan dengan pemilihan bibit unggul secara selektif.
â€Å“Saat ini memang sudah ada investor dari Malaysia yang menginvestasikan lahannya untuk pengembangan kebun nilam seluas 20 ha di Kecamatan Sitelu Tali Urang Jehe (STUJ). Dengan investasi ini, Pemkab Pakpak Bharat mengharapkan ada peningkatan produksi dan pengolahan turunannya,lanjut Awang, seraya menambahkan produk turunan yang dimaksud seperti minyak wangi.
Ditambahkannya, meski sudah menjadi tumpuan hidup sebagian besar penduduk, pengolahan nilam belum begitu dikenal di Pakpak Bharat. Artinya, yang dilakukan petani selama ini hanyalah menjual minyak mentah bagi pengusaha maupun investor yang berminat. Untuk kemudian diekspor oleh pedagang pengumpul tersebut ke negara tujuan ekspor, seperti Malaysia dan negara-negara di Eropa.
â€Å“Budidaya nilam ini sendiri sebenarnya cukup mudah, proses penanamannya dapat dilakukan dengan menanam bibit, batang, atau pucuknya. Terlebih dahulu ditanam di polibeg selama 4 hingga 6 minggu. Setelah itu, bibit sudah siap tanam, dan akan berproduksi 6-7 bulan kemudian,†jelasnya. (M35/g)
* Source Harian Sinar Indonesia Baru
11.57 | 0
komentar | Read More
KOMODITI UTAMA NASIONAL DI KABUPATEN PAKPAK BHARAT
Komoditi utama di Kabuapten Pakpak Bharat terdiri dari Kelapa Sawit, Karet, Kakao sedangkan Komoditi Primer terdiri dari Kelapa, Kopi, Nilam, Kemenyan dan Gambir. Jumlah produksi dan luas lahan yang telah dikelola untuk komoditi tersebut dapat digambarkan seperti dibawah ini :
Komoditi utama di Kabupaten Pakpak Bharat, terdiri dari :
Komoditi Primer di Kabupaten Pakpak Bharat, terdiri dari :

Kelapa
Produksi : 59 Ton
Lahan yang sudah digunakan : 85 Ha

Kelapa
Produksi : 59 Ton
Lahan yang sudah digunakan : 85 Ha
Komoditi lainnya :

Gambir
Produksi : 122 Ton
Lahan yang sudah digunakan : 713 Ha

Nilam
Produksi : 6 Ton
Lahan yang sudah digunakan : 161 Ha

Kemenyan
Produksi : Ton
Lahan yang sudah digunakan : Ha
* Source : regionalinvestment.com
Sumber Data:
Statistik Perkebunan Indonesia 2006-2008
Departemen Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan Jakarta 2007
Komp Deptan Gedung C Lt-III Ruang.307 Jl. Harsono R.M No. 3 Ps Minggu Jakarta Selatan 12550
Telp 021-7817693 021-7815380-4 Ext-4318
Fax 021-7815586 021-7815486
11.22 | 0
komentar | Read More
Investasi PLTA atau Wisata di Sampuren atau Air Terjun Lae Une

Sejak terbentuknya Kabupaten Pakpak Bharat Bupati dan Aparatur Pemerintahan selangkah demi selangkah mulai melakukan pembangunan di berbagai sektor yaitu pembangunan sarana umum dan perkantoran. Keadaan pembangunan tersebut merupakan merupakan wujud nyata dari pembangunan Kabupaten Pakpak Bharat. Disamping manjunya geliat pembangunan di Kabupaten Pakpak Bharat, Bupati telah melakukan kerjasama dengan Perguruan Tinggi yang sudah terkenal di Indonesia seperti ITB (Bidang Teknik Tepat Guna), IPB (Bidang Pertanian), USU dan Unimed (Bidang Pendidikan), PHP II (Bidang Peralatan dan Kesehatan).
Pembangunan Infrastruktur (jalan, irigasi dan perkantoran) Pemerintah Kabupaten Pakpak Bharat telah berhasil membangun jalan negara 41.00 km. Bidang Irigasi telah dibangun 73 saluran irigasi dengan total luas lahan irigasi 8.740 ha, luas areal irigasi berfungsi 1.620. Semetara untuk program pembangunan infrastruktur pada tahun 2008 ang akan datang Pemkab Pakpak Bharat telah merencanakan membangun jalan di 6 lokasi dengan panjang ruas jalan 93.00 km, bidang pengairan 10 lokasi yang terdapat di 5 kecamatan. Bidang sarana permukiman sepanjang 23 km yaitu sarana air bersih pedesaan, drainase perkotaan 3 km, pembangunan trotoar pada perkotaan sepanjang 1.500 meter. Sementara bidang perhubungan direncanakan akan dibangun guard rail di jalan propinsi dan jalan Negara. Pemasangan marka jalan, rambu lalu lintas, pengawasan delinator, pengadan dan pemasangan paku jalan yang keseluruhan direncanakan dibangun pada tahun 2008.
PEREKONOMIAN (ECONOMICS) Geliat pertumbuhan perekonomian kabupaten Pakpak Bharat mash jauh dari harapan. Ketertinggalan pembangunan pada masa lalu. Dengan berbagai program yang diaktualisasikan akhirnya masyarakat mampu membuktikan bahwa masyarakat Pakpak memiliki kemajuan untuk bekerja keras. Perekonomian masih didominasi dari hasil palawija, sebagian hasil perkebunan sudah mulai dapat diandalkan masyarakat. Pembentukan kelompok kontak tani baru-baru ini merupakan aspirasi masyarakat yang bertujuan meningkatkan perekonomian walaupun dananya masih dibantu olah pemkab Pakpak bharat. Disamping memiliki lahan subur untuk dijadikan lahan pertanian, Kabupaten Pakpak Bharat memiliki Sumber daya alam pertambangan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh PT Dairi Prima Mineral, ternyata wilayah Pakpak Bharat mengadung bahan tambang timah hitam yang terletak di desa lae merempat berbatasan dengan Kabupaten Dairi dan Aceh Singkil, memiliki jumlah persediaan timah hitam yang cukup menjanjikan.
HUKUM DAN POLITIK (LAW AND POLITICS)
Pemerintah Kabupaten Pakpak Bharat dalam menjalankan tugas dan fungsinya patuh dan taat kepada hukum. Hukum selalu menjadi patokan dalam setiap mengambil kebijakan. Terbukti bahwa eks pejabat Pakpak Bharat pada masa pemerintahan terdahulu sudah mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum, selain memajukan pembangunan sarana, prasarana dan SDM, pembangunan bidang hukum tidak luput dari perhatian pemerintah. Sementara di bidang politik tergolong sangat kondusif. Ini dibuktikan dengan tidak ditemukannya demonstrasi. Masyarakat tidak mau dipropovokasi oleh pihak tertentu, melainkan sudah menuju politik yang sehat. Demokrasi terbuka selalu terlihat pada saat terjadinya Pilkades. Hukum yang jelas dan politik yang kondusif merupakan jaminan kepada pengusaha dalam melaksanakan investasi di Kabupaten Pakpak Bharat, yang diikuti oleh peataan administrasi pemerintahan yang baik, efektif efisien, mudah serta tepat waktu yang merupakan manajerial pemkab Pakpak Bharat dalam menjalankan Roda Pemerintahan.
PERMASALAHAN DAN PENYELESAIAN MASALAH (PROBLEM AND SOLUTION PROBLEM) Bupati maupun Aparatur Pemkab Pakpak Bharat dalam setiap kunjungan kerja ke desa maupun kecamatan selalu memberikan dorongan dan semangat kepada masyarakat. Agar selalu bekerja keras untuk menyosong masa depan yang lebih baik dan melupakan masa lalu yang tidak menyenangkan. Bupati tidak henti-hentinya memberikan contoh kepada masyarakat yang maju sehingga dengan contoh tersebut dapat membangkitkan motivasi masyarakat, dijadikan modal dalam memajukan taraf hidupnya. dengan dana yang jumlahnya tergolong besar, Pemkab Pakpak Bharat memberikan jaminan kemajuan kepada masyarakat. Pembangunan Pakpak Bharat mulai menggeliat/dirasakan oleh masyarakat Pakpak Bharat pada khususnya dan masyarakat umum dengan adanya bukti bahwa Investor asing mulai berani untuk menanam investasinya dengan adanya rencana pertambangan yang mulai dibuka di Desa Lae Merempat Kecamatan STTUJehe yaitu rencana pertambangan Besi Hitam (Verum) oleh PT. Dairi Prima Mineral (DPM). Bupati beserta jajarannya dengan tegas dan terbuka mengajak dan masyarakatnya untuk maju, meliputi kemajuan dalam segi Pola Pikir, pola kehidupan sehingga dapat mengikuti perkembangan pembangunan. Kini masyarakat Pakpak Bharat perlahan-lahan telah mempersiapkan diri untuk menatap dan menggapai masa depan yang lebih cerah dengan meningkatkan kerja keras untuk mewujudkan masyarakat Kabupaten Pakpak Bharat yang Nduma. Untuk memacu semangat maju bagi masyarakat Kabupaten Pakpak Bharat, Pemerintah diminta untuk lebih bersabar dalam membingbing maupun mengajak masyarakatnya dalam mengikuti perkembangan kemajuan pembangunan dalam berbagai sektor, dikarenakan masyarakat Pakpak Bharat belum percaya sepenuhnya kepada pemerintah tentang program-program pembangunan yang dituangklan kepada masyarakat. Ini disebabkan adanya rasa terisolir yang begitu lama sehingga menimbulkan apatis terhadap pemerintah. Namun sebagian tokoh masyarakat Pakpak Bharat yang berhasil dijumpai penulis mengakui bahwa perkembangan kemajuan Kabupaten Pakpak Bharat sudah tergolong mulai maju dan ini tidak dapat dipungkiri adanya berbagai pembangunan yang mulai berdampak positip kepada masyarakat Pakpak Bharat.
* Source : Situs Resmi Pemkab Pakpak Bharat
Pembangunan Infrastruktur (jalan, irigasi dan perkantoran) Pemerintah Kabupaten Pakpak Bharat telah berhasil membangun jalan negara 41.00 km. Bidang Irigasi telah dibangun 73 saluran irigasi dengan total luas lahan irigasi 8.740 ha, luas areal irigasi berfungsi 1.620. Semetara untuk program pembangunan infrastruktur pada tahun 2008 ang akan datang Pemkab Pakpak Bharat telah merencanakan membangun jalan di 6 lokasi dengan panjang ruas jalan 93.00 km, bidang pengairan 10 lokasi yang terdapat di 5 kecamatan. Bidang sarana permukiman sepanjang 23 km yaitu sarana air bersih pedesaan, drainase perkotaan 3 km, pembangunan trotoar pada perkotaan sepanjang 1.500 meter. Sementara bidang perhubungan direncanakan akan dibangun guard rail di jalan propinsi dan jalan Negara. Pemasangan marka jalan, rambu lalu lintas, pengawasan delinator, pengadan dan pemasangan paku jalan yang keseluruhan direncanakan dibangun pada tahun 2008.
PEREKONOMIAN (ECONOMICS) Geliat pertumbuhan perekonomian kabupaten Pakpak Bharat mash jauh dari harapan. Ketertinggalan pembangunan pada masa lalu. Dengan berbagai program yang diaktualisasikan akhirnya masyarakat mampu membuktikan bahwa masyarakat Pakpak memiliki kemajuan untuk bekerja keras. Perekonomian masih didominasi dari hasil palawija, sebagian hasil perkebunan sudah mulai dapat diandalkan masyarakat. Pembentukan kelompok kontak tani baru-baru ini merupakan aspirasi masyarakat yang bertujuan meningkatkan perekonomian walaupun dananya masih dibantu olah pemkab Pakpak bharat. Disamping memiliki lahan subur untuk dijadikan lahan pertanian, Kabupaten Pakpak Bharat memiliki Sumber daya alam pertambangan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh PT Dairi Prima Mineral, ternyata wilayah Pakpak Bharat mengadung bahan tambang timah hitam yang terletak di desa lae merempat berbatasan dengan Kabupaten Dairi dan Aceh Singkil, memiliki jumlah persediaan timah hitam yang cukup menjanjikan.
HUKUM DAN POLITIK (LAW AND POLITICS)
Pemerintah Kabupaten Pakpak Bharat dalam menjalankan tugas dan fungsinya patuh dan taat kepada hukum. Hukum selalu menjadi patokan dalam setiap mengambil kebijakan. Terbukti bahwa eks pejabat Pakpak Bharat pada masa pemerintahan terdahulu sudah mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum, selain memajukan pembangunan sarana, prasarana dan SDM, pembangunan bidang hukum tidak luput dari perhatian pemerintah. Sementara di bidang politik tergolong sangat kondusif. Ini dibuktikan dengan tidak ditemukannya demonstrasi. Masyarakat tidak mau dipropovokasi oleh pihak tertentu, melainkan sudah menuju politik yang sehat. Demokrasi terbuka selalu terlihat pada saat terjadinya Pilkades. Hukum yang jelas dan politik yang kondusif merupakan jaminan kepada pengusaha dalam melaksanakan investasi di Kabupaten Pakpak Bharat, yang diikuti oleh peataan administrasi pemerintahan yang baik, efektif efisien, mudah serta tepat waktu yang merupakan manajerial pemkab Pakpak Bharat dalam menjalankan Roda Pemerintahan.
PERMASALAHAN DAN PENYELESAIAN MASALAH (PROBLEM AND SOLUTION PROBLEM) Bupati maupun Aparatur Pemkab Pakpak Bharat dalam setiap kunjungan kerja ke desa maupun kecamatan selalu memberikan dorongan dan semangat kepada masyarakat. Agar selalu bekerja keras untuk menyosong masa depan yang lebih baik dan melupakan masa lalu yang tidak menyenangkan. Bupati tidak henti-hentinya memberikan contoh kepada masyarakat yang maju sehingga dengan contoh tersebut dapat membangkitkan motivasi masyarakat, dijadikan modal dalam memajukan taraf hidupnya. dengan dana yang jumlahnya tergolong besar, Pemkab Pakpak Bharat memberikan jaminan kemajuan kepada masyarakat. Pembangunan Pakpak Bharat mulai menggeliat/dirasakan oleh masyarakat Pakpak Bharat pada khususnya dan masyarakat umum dengan adanya bukti bahwa Investor asing mulai berani untuk menanam investasinya dengan adanya rencana pertambangan yang mulai dibuka di Desa Lae Merempat Kecamatan STTUJehe yaitu rencana pertambangan Besi Hitam (Verum) oleh PT. Dairi Prima Mineral (DPM). Bupati beserta jajarannya dengan tegas dan terbuka mengajak dan masyarakatnya untuk maju, meliputi kemajuan dalam segi Pola Pikir, pola kehidupan sehingga dapat mengikuti perkembangan pembangunan. Kini masyarakat Pakpak Bharat perlahan-lahan telah mempersiapkan diri untuk menatap dan menggapai masa depan yang lebih cerah dengan meningkatkan kerja keras untuk mewujudkan masyarakat Kabupaten Pakpak Bharat yang Nduma. Untuk memacu semangat maju bagi masyarakat Kabupaten Pakpak Bharat, Pemerintah diminta untuk lebih bersabar dalam membingbing maupun mengajak masyarakatnya dalam mengikuti perkembangan kemajuan pembangunan dalam berbagai sektor, dikarenakan masyarakat Pakpak Bharat belum percaya sepenuhnya kepada pemerintah tentang program-program pembangunan yang dituangklan kepada masyarakat. Ini disebabkan adanya rasa terisolir yang begitu lama sehingga menimbulkan apatis terhadap pemerintah. Namun sebagian tokoh masyarakat Pakpak Bharat yang berhasil dijumpai penulis mengakui bahwa perkembangan kemajuan Kabupaten Pakpak Bharat sudah tergolong mulai maju dan ini tidak dapat dipungkiri adanya berbagai pembangunan yang mulai berdampak positip kepada masyarakat Pakpak Bharat.
* Source : Situs Resmi Pemkab Pakpak Bharat
11.17 | 1
komentar | Read More
PLTA Rp 500 Miliar Mulai Dibangun di Lae Ordi Kabupaten Pakpak Bharat Diyakini Bakal Lebih Maju Dibanding Dairi

Kabupaten Pakpak Bharat diyakini akan mengalami kemajuan pesat. Baik di sektor pembangunan maupun peningkatan taraf hidup masyarakatnya.
Bahkan diperkirakan bakal lebih maju dibanding kabupaten induknya, Dairi. Namun hal ini bisa segera tercapai sekiranya masyarakatnya dapat menerima dan mendukung kehadiran investor ke daerahnya untuk menanamkan modal melakukan pembangunan berbagai proyek yang berdampak multiplier effect.
Prospek seperti itu dikemukakan Direktur PT Pakpak Bumi Energi Indra Utama didampingi Direktur Bakkara Bumi Energi Don Mahyudin kepada pers di Medan, Sabtu (18/7).Kedua perusahaan itu secara bersama-sama saat ini mulai menanamkan investasi senilai Rp 500 miliar untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Pakpak Bharat. PLTA yang akan menghasilkan listrik berkapasitas 21 Mega Watt (MW) ini dibangun di kawasan Desa Kecupak I Kecamatan Pargetten Getten Sengkut (PGGS) dengan memanfaatkan air sungai Lae Ordi.
Kedua direktur perusahaan yang bergerak di bidang pembangunan pembangkit listrik itu juga telah menghadiri dialog percepatan pembangunan Pakpak Bharat yang diselenggarakan masyarakat setempat bersama pihak Pemkab, di lokasi obyek wisata air terjun Sampuren Lae Une, Kecupak I Kecamatan PGGS, Sabtu 18 Juli 2009.
Dialog dengan materi pokok pembangunan PLTA tersebut selain dihadiri Indra Utama dan Don Mahyudin juga menampilkan narasumber Bupati Pakpak Bharat H Makmur Berasa, Mansehat Manik dari Persatuan Merga Sulang Silima, Mertua Manik dari unsur pemuda, Menahan Manik dari unsur masyarakat Kecupak I, Punten Manik dari unsur Suhut Mentalun, Marudin Berutu bersama Edison Manik dari unsur putera Pakpak Bharat di perantauan.
Tak kurang 800-an warga khususnya dari kawasan lokasi PLTA yang akan dibangun hadir mengikuti dialog, di samping para pejabat setempat seperti dari Asisten Setdakab, dari Kandepag, Kepala Dinas Kehutanan Pakpak Bharat Ir Sujarwo, Camat Pargetten Getten Sengkut Pestakan Habeahan, Kades Kecupak I Sahrin Manik, Kades Simerpara Mardi Manik serta dari unsur kepolisian. Acara itu berlangsung sukses dan meriah karena juga diselingi dengan hiburan musik kibod dan tari-tarian, bahkan diadakan pula lomba berjoget dengan peserta diundi dari para hadirin sendiri dengan penyediaan hadiah terhadap tiga orang pemenang I, II dan III.
Dalam dialog, pada awalnya moderator mengungkapkan kondisi daerah Pakpak Bharat yang sebagian masih tergolong tetinggal. Namun diharapkan kemajuan akan dicapai lebih cepat jika investor masuk ke daerah tersebut, sehingga bupati diminta menyikapi kehadiran investor seperti yang telah ada yaitu dari PT Pakpak Bumi Energi dan Bakkara Bumi Energi.
Bupati H Makmur Berasa menyatakan, masyarakat Pakpak Bharat umumnya dan warga PGGS khususnya patut bersyukur dengan kehadiran investor tersebut, karena bakal mendatangkan kemajuan di daerah Pakpak Bharat. Asalkan proyek PLTA ini mendapat dukungan dari masyarakat sehingga pembangunannya dapat berjalan lancar, maka dampaknya kelak akan melahirkan kemajuan pesat sehingga tidak perlu lagi ada kekhawatiran Kabupaten Pakpak Bharat akan dikembalikan ke kabupaten induknya sebelum pemekaran yaitu Kabupaten Dairi.
“Apakah kita dukung..?” tanya bupati lantang yang disambut serempak oleh masyarakat yang hadir “Dukung…!!”
Sementara semua nara sumber lainnya menyatakan dukungan terhadap pembangunan PLTA yang pembangunannya sedang mulai dilaksanakan oleh kedua perusahaan pimpinan putera-putera Indonesia sendiri itu.
Dikelola PLN
Menanggapi dukungan dan harapan dari bupati, nara sumber dan warga pembicara lainnya, Indra Utama senada dengan Don Mahyudin menyatakan kebahagiaan dan rasa terima kasihnya. Mereka juga menyebutkan adalah sudah menjadi sikap perusahaan yang mereka pimpin untuk memberdayakan tenaga kerja dari kalangan warga setempat, sepanjang sesuai dengan keahlian yang dibutuhkan. Bidang pekerjaan yang dapat dikerjakan oleh kalangan tenaga kerja dari kawasan setempat tentu tidak akan didatangkan dari daerah lain.
Menurut Indra, kerja sama masyarakat setempat dengan kedua perusahaan yang mereka pimpin tidaklah sebatas pada masa pembangunan proyek PLTA itu semata, tetapi akan jauh lebih panjang sampai salama usia proyek tersebut. Karena pembangunan itu bukan sekedar untuk kebutuhan saat ini tetapi sampai ke anak cucu kelak. “Yang kita bangun saat ini dampaknya adalah kemajuan sampai 50 tahun ke depan bahkan lebih dan kelak dinikmati sampai ke anak cucu kita,” ujar Indra.
Ia yakin dengan dukungan masyarakat, proyek PLTA ini akan dapat segera diselesaikan dan dapat mulai dioperasikan sesuai rencana, yaitu akhir tahun 2010. “Kalau pembangunan PLTA ini sudah selesai dan dioperasionalkan, dampak positifnya akan sangat luas bagi Kabupaten Pakpak Bharat bahkan berimbas ke daerah-daerah lainnya,” ujar Indra.
Di antara dampak positif tersebut ialah lapangan kerja akan terbuka sebab dengan terpenuhinya kebutuhan energy listrik maka berbagai proyek baru akan bermunculan, berbagai usaha yang menggunakan listrik juga akan tumbuh seperti berbagai jenis industri rumah tangga, perbengkelan, usaha las dan lain sebagainya.
Bupati Pakpak Bharat H Makmur Berasa pada akhirnya menyimpulkan pada prinsipnya segenap masyarakat mendukung pembangunan PLTA di Lae Ordi tersebut. Sedangkan harapan warga setempat mendapat prioritas pengguna listriknya kelak, bupati juga mengungkapkan bahwa pengelolaan listrik tersebut kelak adalah oleh PLN. Namun demikian ia menjamin pihak Pemkab Pakpak Bharat juga akan ikut membicarakannya dengan pihak PLN agar warga setempat mendapat prioritas utama bagi penggunaan listrik yang dihasilkan, sesuai kebutuhan untuk berbagai usaha yang akan dijalankan.(rel/hers)
*Source : Analisadaily.com
Bahkan diperkirakan bakal lebih maju dibanding kabupaten induknya, Dairi. Namun hal ini bisa segera tercapai sekiranya masyarakatnya dapat menerima dan mendukung kehadiran investor ke daerahnya untuk menanamkan modal melakukan pembangunan berbagai proyek yang berdampak multiplier effect.
Prospek seperti itu dikemukakan Direktur PT Pakpak Bumi Energi Indra Utama didampingi Direktur Bakkara Bumi Energi Don Mahyudin kepada pers di Medan, Sabtu (18/7).Kedua perusahaan itu secara bersama-sama saat ini mulai menanamkan investasi senilai Rp 500 miliar untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Pakpak Bharat. PLTA yang akan menghasilkan listrik berkapasitas 21 Mega Watt (MW) ini dibangun di kawasan Desa Kecupak I Kecamatan Pargetten Getten Sengkut (PGGS) dengan memanfaatkan air sungai Lae Ordi.
Kedua direktur perusahaan yang bergerak di bidang pembangunan pembangkit listrik itu juga telah menghadiri dialog percepatan pembangunan Pakpak Bharat yang diselenggarakan masyarakat setempat bersama pihak Pemkab, di lokasi obyek wisata air terjun Sampuren Lae Une, Kecupak I Kecamatan PGGS, Sabtu 18 Juli 2009.
Dialog dengan materi pokok pembangunan PLTA tersebut selain dihadiri Indra Utama dan Don Mahyudin juga menampilkan narasumber Bupati Pakpak Bharat H Makmur Berasa, Mansehat Manik dari Persatuan Merga Sulang Silima, Mertua Manik dari unsur pemuda, Menahan Manik dari unsur masyarakat Kecupak I, Punten Manik dari unsur Suhut Mentalun, Marudin Berutu bersama Edison Manik dari unsur putera Pakpak Bharat di perantauan.
Tak kurang 800-an warga khususnya dari kawasan lokasi PLTA yang akan dibangun hadir mengikuti dialog, di samping para pejabat setempat seperti dari Asisten Setdakab, dari Kandepag, Kepala Dinas Kehutanan Pakpak Bharat Ir Sujarwo, Camat Pargetten Getten Sengkut Pestakan Habeahan, Kades Kecupak I Sahrin Manik, Kades Simerpara Mardi Manik serta dari unsur kepolisian. Acara itu berlangsung sukses dan meriah karena juga diselingi dengan hiburan musik kibod dan tari-tarian, bahkan diadakan pula lomba berjoget dengan peserta diundi dari para hadirin sendiri dengan penyediaan hadiah terhadap tiga orang pemenang I, II dan III.
Dalam dialog, pada awalnya moderator mengungkapkan kondisi daerah Pakpak Bharat yang sebagian masih tergolong tetinggal. Namun diharapkan kemajuan akan dicapai lebih cepat jika investor masuk ke daerah tersebut, sehingga bupati diminta menyikapi kehadiran investor seperti yang telah ada yaitu dari PT Pakpak Bumi Energi dan Bakkara Bumi Energi.
Bupati H Makmur Berasa menyatakan, masyarakat Pakpak Bharat umumnya dan warga PGGS khususnya patut bersyukur dengan kehadiran investor tersebut, karena bakal mendatangkan kemajuan di daerah Pakpak Bharat. Asalkan proyek PLTA ini mendapat dukungan dari masyarakat sehingga pembangunannya dapat berjalan lancar, maka dampaknya kelak akan melahirkan kemajuan pesat sehingga tidak perlu lagi ada kekhawatiran Kabupaten Pakpak Bharat akan dikembalikan ke kabupaten induknya sebelum pemekaran yaitu Kabupaten Dairi.
“Apakah kita dukung..?” tanya bupati lantang yang disambut serempak oleh masyarakat yang hadir “Dukung…!!”
Sementara semua nara sumber lainnya menyatakan dukungan terhadap pembangunan PLTA yang pembangunannya sedang mulai dilaksanakan oleh kedua perusahaan pimpinan putera-putera Indonesia sendiri itu.
Dikelola PLN
Menanggapi dukungan dan harapan dari bupati, nara sumber dan warga pembicara lainnya, Indra Utama senada dengan Don Mahyudin menyatakan kebahagiaan dan rasa terima kasihnya. Mereka juga menyebutkan adalah sudah menjadi sikap perusahaan yang mereka pimpin untuk memberdayakan tenaga kerja dari kalangan warga setempat, sepanjang sesuai dengan keahlian yang dibutuhkan. Bidang pekerjaan yang dapat dikerjakan oleh kalangan tenaga kerja dari kawasan setempat tentu tidak akan didatangkan dari daerah lain.
Menurut Indra, kerja sama masyarakat setempat dengan kedua perusahaan yang mereka pimpin tidaklah sebatas pada masa pembangunan proyek PLTA itu semata, tetapi akan jauh lebih panjang sampai salama usia proyek tersebut. Karena pembangunan itu bukan sekedar untuk kebutuhan saat ini tetapi sampai ke anak cucu kelak. “Yang kita bangun saat ini dampaknya adalah kemajuan sampai 50 tahun ke depan bahkan lebih dan kelak dinikmati sampai ke anak cucu kita,” ujar Indra.
Ia yakin dengan dukungan masyarakat, proyek PLTA ini akan dapat segera diselesaikan dan dapat mulai dioperasikan sesuai rencana, yaitu akhir tahun 2010. “Kalau pembangunan PLTA ini sudah selesai dan dioperasionalkan, dampak positifnya akan sangat luas bagi Kabupaten Pakpak Bharat bahkan berimbas ke daerah-daerah lainnya,” ujar Indra.
Di antara dampak positif tersebut ialah lapangan kerja akan terbuka sebab dengan terpenuhinya kebutuhan energy listrik maka berbagai proyek baru akan bermunculan, berbagai usaha yang menggunakan listrik juga akan tumbuh seperti berbagai jenis industri rumah tangga, perbengkelan, usaha las dan lain sebagainya.
Bupati Pakpak Bharat H Makmur Berasa pada akhirnya menyimpulkan pada prinsipnya segenap masyarakat mendukung pembangunan PLTA di Lae Ordi tersebut. Sedangkan harapan warga setempat mendapat prioritas pengguna listriknya kelak, bupati juga mengungkapkan bahwa pengelolaan listrik tersebut kelak adalah oleh PLN. Namun demikian ia menjamin pihak Pemkab Pakpak Bharat juga akan ikut membicarakannya dengan pihak PLN agar warga setempat mendapat prioritas utama bagi penggunaan listrik yang dihasilkan, sesuai kebutuhan untuk berbagai usaha yang akan dijalankan.(rel/hers)
*Source : Analisadaily.com
11.09 | 0
komentar | Read More
SYARAT DAN PROSEDUR INVESTASI
Rabu, 15 April 2009 | 13.55|
A Permohonan
Permohonan investasi biasa dilakukan di kantor Perwakilan Indonesia di luar negeri, BPKM di tingkat pusat, BPM di tingkat propinsi dan Lembaga Teknis Penanaman Modal di kabupaten / kota. Calon investor boleh memilih untuk mengajukan proposal tersebut akan dikaji sehubungan dengan berbagai aspek. Setelah proposal disetujui oleh Perwakilan Indonesia di luar negeri, Kepala BKPM, atau Kepala BPM, maka persetujuan investasi akan dikeluarkan. Para calon investor harus melengkapi beberapa persyaratan yang dibutuhkan untuk menanamkan modalnya, antara lain :
Untuk PMDN, mengisi formulir model I PMDN yang dilengkapi dengan :
1 Akta perusahaan atau fotokopi KTP bagi perorangan
2 Fotokopi NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak)
3 Proses atau flowchart uraian produksi atau kegiatan usaha
4 Surat kuasa apabila tidak ditandatangani oleh direksi untuk PMA
Mengisi formulir model I PMA yang dilengkapi dengan :
1 Akte pendirian perusahaan yang telah disahkan
2 Fotokopi paspor apabila perorangan
3 Fotokopi NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) perusahaan PMA
4 Surat Kuasa (Letter of Power Attorney)
5 Gambaran proses uraian produksi / kegiatan usaha (flowchart)
6 Persetujuan Perjanjian Kerjasama (mitra)
B Perijinan di Tingkat Pusat
1 BPKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal)
- Surat Persetujuan Penanaman Modal (SP PMDN atau SP PMA), khusus bagi investor dalam rangka PMDN dengan nilai investasi lebih besar dari 10 milyar rupiah dan PMA dengan nilai investasi sampai dengan US$ 100 juta
- Surat Persetujuan Presiden, ditindaklanjuti dengan penerbitan Surat Pemberitahuan tentang Persetujuan Presiden (SPP) khusus bagi investor dalam rangka PMA dengan nilai investasi
2 BPN (Badan Pertanahan Nasional)
- Hak Guna Usaha (HGU) yang luasnya lebih dari 200 Ha
C Perijinan di Tingkat Propinsi Sumatera Utara
1 Surat Persetujuan Penanaman Modal
2 Surat Persetujuan Pemberian Fasilitas atas Pengimporan Barang Modal / Bahan Baku / Penolong
3 Angka Pengenal Importir Terbatas (APIT)
4 Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTK)
5 Izin Usaha Tetap (IUT)
6 Izin Tenaga Kerja Asing (ITKA)
D Perijinan di Tingkat Kabupaten Pakpak Bharat
Semua prosedur atau mekanisme perijinan investasi di tingkat Kabupaten Sragen ditangani oleh Badan Pelayanan Terpadu dengan pelayanan satu pintu (one stop service). Ada beberapa ijin yang harus dipenuhi oleh semua jenis usaha, yaitu : Ijin Mendirikan Bangunan , Ijin Lokasi, Ijin Prinsip dan Ijin Gangguan (HO).
13.55 | 0
komentar | Read More
Langganan:
Postingan (Atom)




.jpg)








