Seluruh SKPD Pakpak Bharat Provinsi Sumut Terapkan ISO 9001 : 2008
Rabu, 10 Oktober 2012 | 12.12|
PAKPAK BHARAT SELENGGARAKAN FGD PENERAPAN STANDAR MANAJEMEN MUTU ISO
Senin, 30 April 2012 | 09.20|
Informasi Investasi Bidang Pertanian di Pakpak Bharat
Selasa, 20 Maret 2012 | 14.35|
Sektor Pertanian khususnya bidang tanaman pangan merupakan sektor yang memiliki peranan yang cukup penting. Khusus di Kabupaten Pakpak Bharat sektor tanaman pangan merupakan sektor yang dominan dan mendapat perhatian khusus dari pemerintah karena sebagian besar mata pencaharian penduduk Kabupaten Pakpak Bharat adalah umumnya hidup dari bertani.| No | Kecamatan | Luas Lahan Sawah (Ha) |
| 1 | Salak | 243 |
| 2 | Kerajaan | 458 |
| 3 | STTU Jehe | 131 |
| 4 | STTU Julu | 218 |
| 5 | Pergetteng-getteng Sengkut | 141 |
| 6 | Siempat Rube | 211 |
| 7 | Tinada | 283 |
| 8 | Pagindar | 13 |
| TOTAL | 1.698 | |
- Padi Sawah adalah salah satu komoditi unggul nasional yang harus dikembangkan secara nasional.
- Beras merupakan bahan pangan utama di Kabupaten Pakpak Bharat.
- Belum adanya varietas benih unggul padi sawah hibrida yang sesuai dengan agroklimat di Kabupaten Pakpak Bharat, mayoritas petani masih menggunakan varietas lokal seperti si angkat, si berru lembeng, si ramos dan sebagian petani menggunakan benih unggul padi sawah non-hibrida Ciherang tetapi varietas ini tidak dapat digunakan di semua wilayah kabupaten Pakpak Bharat.
- Pengolahan lahan masih menggunakan sistem tradisional yang dilakuan secara turun temurun.
- Irigasi persawahan yang belum maksimal, sebagian besar lahan sawah masih menggunakan air hujan (Sawah tadah hujan)
- SDM Petani yang masih rendah.
- Adanya alih fungsi lahan sawah menjadi lahan pertanian atau permukiman.
- Mendukung tanaman padi sawah sebagai komoditi unggulan bidang tanaman pangan dan hortikultura.
- Melaksanakan kegiatan SL-PTT (Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu) Padi Sawah yang bersumber dana dari Kementerian Pertanian melalui Dirjen Tanaman Pangan. Pada kegiatan ini petani akan mendapatkan informasi tentang teknologi pengembangan padi sawah mulai dari penggunaan benih sampai dengan pasca panen. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan SDM petani akan bertambah dan produksi padi sawah akan meningkat.
- Rehabilitasi jaringan tersier. Yaitu dengan melakukan perbaikan pada irigasi tersier yang rusak atau irigasi teriser yang belum dapat digunakan secara maksimal. Dengan adanya kegiata ini maka pengairan di persawahan dapat diatur dengan baik dan Indeks Pertanaman (IP) padi sawah dapat menjadi 3 kali tanam dalam setahun.
- Membuat penangkar benih padi sawah. Untuk membantu petani memperoleh benih padi, Dinas Pertanian dan Perkebunan membuat penangkar padi sawah dimana petani membeli benih hanya dengan membayar PAD yaitu sebesar 25% dari harga pasar.
PERIZINAN SEBAGAI GARDA TERDEPAN STIMULUS PENINGKATAN PAD PAKPAK BHARAT
Sebagai pedoman/acuan penyelenggaraan pelayanan perizinan, KP2SP-PM menjabarkan SOP yang sudah ada menjadi Standar Pelayanan Publik (SPP) untuk mengatur secara rinci prosedur kerja pelayanan dan pedoman bagi pengguna layanan (masyarakat).
Himbauan Pengurusan IMB
Jumat, 09 Maret 2012 | 11.07|
| MANFAAT IMB | Jaminan Hukum Pemerintah akan membayar ganti rugi atas bangunan anda apabila terjadi pengalihan fungsi lokasi bangunan anda menjadi fasilitas umum atau terkena pelebaran jalan. |
| Keamanan Penghuni Bangunan anda akan aman dan nyaman untuk dihuni jika anda memiliki IMB karena tim teknis/tim ahli bangunan dari pemerintah akan melakukan kajian kelayakan konstruksi bangunan anda. | |
| P.A.D Meningkat Dengan mengurus IMB berarti anda telah ikut berpartisipasi dalam menyumbang Pendapatan Asli Daerah (P.A.D) demi keberlangsungan dan pembangunan di Kabupaten Pakpak Bharat. | |
| Penataan Wilayah Lingkungan/wilayah anda akan tertata dengan baik, teratur dan indah atau tidak semraut karena mendirikan bangunan sembarangan lokasi. | |
| BANGUNAN WAJIB IMB | Rumah Hunian, Pagar, Tangki Air, Tangki Minyak, Tiang Listrik Tegangan Tinggi, Pamflet Iklan Promosi, Cerobong Asap, Terowongan, Tower GSM, dll. |
| SANKSI/DAMPAK TIDAK ADA IMB | |
| | |
Kebijakan Mutu
Minggu, 04 Maret 2012 | 23.46|
Sosialisasi SMM ISO 9001:2008 di KP2SP-PM
Sabtu, 03 Maret 2012 | 09.50|
Catat apa yang anda kerjakan dan kerjakan apa yang anda catat adalah motto dari SMM (Sistem Manajemen Mutu) ISO 9001:2008. Untuk menerapkan SMM ISO 9001:2008 harus bergerak dari motto tersebut. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Tim ISO Kabupaten Pakpak Bharat Kasiman Berutu, SE, MM pada acara sosialisasi SMM ISO 9001:2008 di Kantor Pelayanan Perizinan Satu Pintu dan Penanaman Modal Kabupaten Pakpak Bharat pada hari Kamis tanggal 01 Maret 2012 bertempat di Ruang Rapak KP2SP-PM. Adapun peserta kegiatan tersebut dihadiri oleh tim SMM ISO dari Kabupaten dan seluruh staf, kasi, kasubbag TU dan Kepala Kantor KP2SP-PM.
Seluruh peserta yang hadir sangat antusias mendengarkan penjelasan dari ketua SMM ISO Kabupaten tersebut karena seluruh staf dan jajaran di KP2SP-PM memang dari awal telah memiliki komitmen bersama untuk siap melayani masyarakat dalam hal pengurusan izin dengan motto HP-3G yaitu Handal, Peduli, Gemar, Gedung/Fasilitas, Garansi.
Dengan komitmen bersama untuk melaksanakan motto ini, maka penerapan SMM ISO 9001:2008 di KP2SP-PM disambut dengan sangat positif. Dan pada kesempatan itu juga, KP2SP-PM berhasil menyusun Kebijakan Mutu dan Sasaran Mutu yang dipersyaratkan dalam SMM ISO 9001:2008.
Diakhir acara ketua SMM ISO Kabupaten memperkenalkan yel-yel ISO Kabupaten yaitu : Pakpak Bharat ! Dijawab dengan Nduma. ISO dijawab dengan YES!.
Pada saat sesi sharing, pihak KP2SP-PM mengambil kesimpulan bahwa KP2SP-PM tinggal selangkah lagi menuju SMM ISO 9001:2008.
By : UdamZ
LAUNCHING PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN MUTU (SMM) STANDART SNI ISO 9001:2008 YANG TERINTEGRASI DAN MANDIRI
Selasa, 21 Februari 2012 | 15.03|
Pakpak Bharat Responsif Terhadap Pelayanan Publik
Rabu, 28 Desember 2011 | 14.31|
Di sejumlah instansi publik, misalnya, kini terpampang pengumuman yang berisi penjelasan prosedur pengurusan, seperti KTP, perizinan dan perobatan di rumah sakit, termasuk tarif biaya pengurusan.
Terkait hal itu, Bupati Pakpak Bharat Remigo Yolando Berutu, Selasa (8/11), mengunjungi sejumlah instansi yang berkaitan dengan urusan pelayanan masyarakat.
Seperti di Kantor Dukcatpil, Bupati melihat langsung proses pengurusan KTP, Kantor Pelayanan Perizinan Satu Pintu dan Penanaman Modal (KP2SP - PM), serta Rumah Sakit Umum Daerah Pakpak Bharat.
Di ketiga instansi publik itu, dipampangkan pengumuman segala prosedur pengurusan, termasuk tarif biaya yang diperlukan.
Menurut Bupati, langkah ini dilakukan, selain untuk meningkatkan pelayanan publik, juga guna menghindari terjadi praktik percaloan. Dengan adanya pengumuman ini, maka masyarakat tahu segala prosedur pengurusan, termasuk dana yang diperlukan.
Selain itu, Pemkab juga memberikan pelayanan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) “ Njuah Karina”, yang diperuntukkan bagi warga yang belum mendapatkan Jamkesmas. (ck 08) (Sumber : Medan Bisnis)
Pakpak Bharat Pertahankan Tanaman Nilam
Senin, 21 November 2011 | 08.55|

Tanaman nilam pernah mencuatkan sebuah fenomena karena harga jualnya mencapai Rp 6 juta per kg. Proses produksi penyulingan hingga menghasilkan minyak ini selain digunakan sebagai bahan baku kosmetik dan obatan-obatan, juga sebagai minyak pesawat. Namun secara perlahan, petani yang mengolah pertanaman nilam makin menyusut seiring dengan harganya yang juga merosot di pasaran.
Begitupun, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pakpak Bharat tetap mempertahankan tanaman nilam karena diharapkan masih bisa dikembangkan. "Permintaan juga masih tetap ada kok. Meski jumlahnya juga sudah jauh berkurang dibandingkan lima atau enam tahun yang lalu," ujar Eva Berutu, staf anjungan Pakpak Bharat, kepada MedanBisnis, Jumat (15/4), di arena Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU).
Menurut Eva, saat ini petani nilam di Pakpak Bharat ada di daerah Sibande Kecamatan Sitelu Tali Urang Jahe. "Jumlahnya tinggal sedikit. Karena setengah dari warga yang dulunya petani nilam, sekarang sudah memilih menekuni tanaman pangan dan hortikultura," ungkapnya.
Dikatakan Eva, panen nilam dilakukan sebulan sekali. Karena daun yang dipetik, akan kembali tumbuh optimal setelah sebulan masa panen. "Kalau dipetik lagi sebelum waktunya genap sebulan, daunnya tidak akan tumbuh secara optimal. Dan, itu akan mengurangi hasil produksi," katatanya.
Untuk mendapatkan 1 kg minyak nilam, terang Eva, dibutuhkan sekitar 6-10 goni daun nilam. "Kalau daunnya selebar telapak tangan, itu artinya tumbuh dengan baik. Kalau kualitas daunnya seperti itu, paling dibutuhkan 6 goni untuk menghasilkan 1 kg minyak nilam," katanya.
Ia menambahkan, saat ini, produksi nilam dari Pakpak Bharat dipasarkan ke Medan. Pasalnya, pasaran Medan menjadi daerah paling potensial terutama untuk minyak nilam yang telah diolah menjadi minyak urut. Tanaman nilam ini, masih memiliki nilai pasar yang tinggi. Namun, kendala yang ditemui masyarakat di Pakpak Bharat untuk mengembangkannya adalah terbatasnya lahan yang dimiliki warga.
"Makanya sejumlah petani nilam memilih beralih ke tanaman pangan dan hortikultura. Karena mereka tidak bisa terus mempertahankan tanaman nilam yang harganya memang terus merosot,” jelasnya.
Begitupun, lanjut Eva, Pemkab akan terus mempertahankan tanaman nilam ini karena termasuk tanaman yang jumlahnya kini semakin terbatas terlebih di daerah ini dengan masyarakatnya yang mayoritas petani. Karena petani yang tetap mempertahankan nilam ini yakin harganya akan kembali naik apalagi kini olahannya lebih banyak difokuskan pada minyak urut. (elvidaris simamora)
dikutip dari :www.medanbisnisdaily.com
Pakpak Bharat akan Kembangkan Cabai

Saat ini, cabai termasuk kebutuhan pokok yang permintaannya cukup tinggi di pasaran. Bahkan, cabai termasuk salah satu penyumbang tingginya inflasi di tanah air termasuk di Sumatera Utara (Sumut) karena harganya yang melambung tinggi di awal tahun ini. Tidak heran, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pakpak Bharat, tertarik untuk mengembangkan tanaman hortikultura tersebut.
“Cabai yang akan dikembangkan di Pakpak Bharat ini memiliki spesifikasi yang hampir sama dengan cabai yang diproduksi dari daerah-daerah lain di Sumut yakni cabai merah keriting,” kata Eva Berutu, staf paviliun Pakpak Bharat, kepada MedanBisnis, Senin (11/4), di sela-sela kegiatan Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU), di Medan.
Menurutnya, pengembangan cabai merah ini untuk memenuhi pasar lokal. Sehingga ketika harga cabai melambung karena pasokan sedikit yang diakibatkan anomali cuaca, misalnya, masyarakat Pakpak Bharat masih bisa mengonsumsi cabai karena produk lokal masih mencukupi.
Dikatakan Eva, prospek tanaman cabai di Pakpak Bharat memang cukup potensial karena masih memiliki lahan pertanian yang tidak ditanami seluas 162 hektare. Saat ini, Kabupaten Pakpak Barat memiliki luas tanaman pangan lahan kering 7.977 hektare. "Hampir semua tanaman dari lahan ini bisa panen dengan dengan jumlah produksi di atas rata-rata. Itu menunjukkan, kondisi alam di Pakpak Bharat sangat potensial dalam pengembangan tanaman hortikultura," kata Eva.
Umumnya kata dia, penanaman cabai di Pakpak Bharat digarap secara tradisional. "Jadi masyarakat belum terkontaminasi dengan teknologi, makanya hasil tanamannya masih murni, tanpa bahan-bahan kimia," katanya.
Untuk pengembangan tanaman cabai Eva mengatakan hampir seluruh wilayah di Kabupaten Pakpak Bharat potensial karena memiliki tanah dengan topografi yang sama. "Dari luas lahan sekitar 162 hektare yang tidak ditanami, yang berpotensi untuk mengembangkan cabai sekitar 112 hektare. "Dari luas lahan ini, diperkirakan bisa memproduksi cabai sebanyak 1.726,6 ton atau sekira 15,4 ton per hektare," kata Eva. (elvidaris simamora)
dikutip dari : www.medanbisnisdaily.com
Nenas Manis, Untung Manis

Meski harga nenas kini sedang murah, namun Liman yang baru 4 bulan berjualan nenas merasa beruntung dari usahanya berdagang nenas. Ia mengaku hanya bermodal Rp 200.000 untuk membeli nenas dari agen dan menjualnya kembali di Jalan Sekip.
"Alhamdulillah, paling tidak setiap hari bisa mendapat keuntungan Rp 75.000," katanya kepada MedanBisnis, Kamis (22/9). Ia menuturkan, nenas yang ia jual berasal dari berbagai daerah tergantung pada musimnya. Menurutnya, di bulan September, buah nenas berasal dari Labuhan Batu dan Rantauparapat. Sementara sebulan sebelumnya berasal dari Deli Serdang. "Rasanya tidak jauh beda, tetap saja manis," katanya.
Setiap buahnya, ia menjual dengan harga Rp6000 - Rp8000. Setiap hari ia bisa menjual minimal 20 - 30 buah. "Sengaja diikat dengan tali, biar orang beli langsung 2," katanya. Namun ia tidak menolak jika ada pembeli yang hanya ingin membeli 1 buah saja. "Tapi kalau beli 2, harganya kita potong Rp1000," ujarnya.
Hartini, salah seorang pembeli mengaku dirinya membeli nenas untuk dijadikan rujak dan dijual kembali. "Saya berjualan rujak di Jalan STM. Tadi pagi belum belanja nenas di pasar, ini sekalian lewat, beli aja," katanya. (cw - 02)
dikutip dari :www.medanbisnisdaily.com
Pakpak Bharat Segera Bentuk Dewan Riset

Pemkab Pakpak Bharat segera membentuk Dewan Riset Daerah (DRD) untuk mengembangkan berbagai potensi kabupaten ini yang dikenal sebagai penghasil kopi, gambir, nenas, madu dan beberapa komoditi perkebunan dan kehutanan.
Demikian dikatakan Sekda Pakpak Bharat Hollder Sinamo pada sosialisasi pembentukan DRD se-Sumatera Utara, di aula Kantor Bappeda Pakpak Bharat, Rabu (21/9), di Salak, yang dihadiri antara lain para pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), asosiasi profesi dan LSM.
"Kita menyambut baik kehadiran tim DRD Sumut yang menyosialisasikan pembentukan DRD di kabupaten ini. Pak Bupati setuju dan merespon dengan baik," ungkapnya.
Dia menambahkan, keberadaan DRD penting untuk mendukung program kerja bupati, terutama para pimpinan SKPD di Dinas Pertanian, Kehutanan dan Pertambangan, dengan menyusun program berbasiskan riset dan pengembangan iptek.
Apalagi, paparnya, Pakpak Bharat memiliki potensi sumber daya alam yang besar, sehingga diharapkan ketiga SKPD ini menjadi sektor penggerak perekonomian berbasiskan SDA.
“Sebagai contoh, masyarakat kami banyak mempropduksi gambir, maka kita harus menjaga mutu dan meningkatkan kualitasnya, dengan melakukan penelitian tentang mengolah dan memproduksi gambir secara baik, " ujarnya.
Tim DRD Sumut yang meliputi Dairi, Pakpak Bharat dan Tanah Karo dipimpin Prof Dr Ilmi Abdullah MSc, didampingi sekretarisnya Azizul Kholis SE menyatakan siap mendukung Pemkab Pakpak Bharat yang begitu serius dalam membentuk DRD.
Ilmi menekankan bahwa dengan adanya DRD, maka diharapkan dapat membantu Pemda dalam merumuskan berbagai kebijakan pembangunan, khususnya dalam hal pengembangan iptek dan produk unggulan daerah.
Ia mengapresiasi kebijakan Pemkab Pakpak Bbarat yang mengalokasikan dana bantuan beasiswa sebesar Rp 20 juta/orang bagi setiap siswa sekolah SMA/K yang mampu lulus tes masuk di perguruan tinggi negeri (PTN) untuk mendorong semangat juang para putera daerah dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Menurutnya, apa yang dilakukan Pemkab Pakpak Bharat merupakan investasi jangka panjang di bidang peningkatan SDM.
Azizul Kholis menambahkan, DRD yang terdiri dari kalangan akademis, birokrat dan pengusaha tidak berperan sebagai lembaga pelaksana riset, melainkan hanya sebagai lembaga yang menyusun dan merumuskan arah kebijakan riset.
"Dengan demikian terjadi konsolidasi riset untuk pengembangan sumber daya iptek daerah, terkoordinasinya kegiatan-kegiatan lembaga penelitian dan pengembangan daerah serta terkondisinya hasil iptek yang sesuai dengan kebutuhan daerah untuk kesejahteraan masyarakat," jelasnya. (zainul abdi nasution)
dikutip dari :www.medanbisnisdaily.com
Strategi Pemanfaatan Peluang Investasi Produk Gambir

Tidak salah jika Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pakpak Bharat ingin menjadikan gambir sebagai ikon daerah yang baru dimekarkan itu. Alasannya sangat sederhana, karena Pakpak Bharat memiliki potensi yang luar biasa dalam menghasilkan gambir bermutu tinggi.
Bahkan di Indonesia, hanya dua propinsi yang dapat ditumbuhi tanaman gambir yakni Propinsi Sumiatera Utara (Sumut) tepatnya di Kabupaten Pakpak Bharat dan Solok, Propinsi Sumatera Barat (Sumbar). Kedua propinsi inilah yang memberi andil dalam memenuhi pasar gambir di tanah air termasuk pasar internasional.
Pekan lalu MedanBisnis mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Salak, ibukotanya Kabupaten Pakpak Bharat. Di sana, hampir semua daerah atau kecamatan ditumbuhi dengan tanaman gambir meski skalanya tidak terlalu luas. Namun, secara rata-rata, gambir adalah salah satu sumber penghasilan utama masyarakat setempat di samping kopi.
Meski belum dikelola secara modern namun masyarakat Kabupaten Pakpak Bharat tetap mempertahankan tanaman gambir sebagai penopang kebutuhan hidup keluarganya. Betapa tidak, tanaman gambir yang selama ini dikelola secara regenerasi atau turun temurun memberikan keuntungan yang luar biasa bagi masyarakat setempat. Itu karena dalam budidaya tanaman gambir tidak memerlukan perawatan intensif sementara harga jual relatif tinggi.
“Saat ini harga gambir memang sedang turun berkisar Rp 17.000 per kilogram (kg) dibanding bulan-bulan sebelumnya yang sempat mencapai antara Rp 25.000 hingga Rp 27.000 per kg.
Namun, karena perawatannya sangat mudah dan sederhana, petani tidak akan terlalu dirugikan bila harga turun menjadi Rp 17.000 per kg,” kata Bupati Pakpak Bharat Remigo Yolanda Berutu memulai obrolannya dengan MedanBisnis, di ruang kerjanya, Kantor Bupati Pakpak Bharat.
Begitupun bukan berarti Bupati lepas tangan terhadap turunnya harga gambir tersebut. Saat ini, Bupati bersama satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait tengah merencanakan adanya suatu lembaga untuk menampung seluruh hasil-hasil pertanian unggulan daerah tersebut khususnya getah gambir.
Bahkan menurut Bupati yang saat itu didampingi Asisten II bidang Administrasi dan Pembangunan Sustra Ginting, peraturan daerah (Perda) untuk pendirian semacam Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) bidang usaha menampung hasil-hasil pertanian khususnya komoditas unggulan telah disahkan. “Ini strategi atau solusi yang akan kami realisasikan untuk mengatasi persoalan harga produk pertanian petani yang kerap anjlok saat panen raya tiba,” katanya.
Dengan adanya lembaga tersebut, lanjut Remigo, petani akan diuntungkan karena harga yang ditawarkan selalu tinggi. Misalnya, bila harga gambir turun seperti sekarang ini yakni Rp 17.000 per kg, sementara harga kontrak yang telah disepakati sebelumnya dengan pihak perusahaan Rp 18.000 per kg maka lembaga tersebut akan membeli gambir sesuai harga kontrak.
Namun, bila harga pasar lebih tinggi dari harga kontrak yang disepakati katakanlah hingga mencapai Rp 27.000 per kg (harga pasar-red) maka petani boleh menjual getah gambirnya ke pasar meski diawal sebelumnya sudah ada kontrak antara lembaga dengan petani.
Artinya, kontrak atau kesepakatan yang telah disusun sebelumnya tidak berlaku permanen atau bisa berubah jika harga pasar memang lebih tinggi. “Jadi, sebelumnya antara lembaga dengan petani dalam hal ini kelompok tani akan membuat perjanjian terhadap harga getah gambir,” terang bapak tiga anak ini.
Karena hargalah yang selama ini menjadi kekhawatiran petani dalam mengembangkan tanaman gambir secara komersil. “Nah, dengan adanya lembaga ini, harga gambir bisa meningkat dari sekarang, hingga akhirnya petani terpacu untuk memanfaatkan lahannya untuk menanam gambir dan merawatnya dengan baik,” kata Remigo.
Dengan adanya lembaga BUMD tersebut selain dapat meningkatkan pendapatan petani juga mempermudah petani mengakses pasar luar negeri. Apalagi selama ini, getah gambir yang diproduksi petani di Pakpak Bharat tidak hanya mengisi pasar dalam negeri saja tapi juga pasar luar negeri seperti India, yang permintaan akan getah gambir cukup tinggi.
Bahkan 80% dari total kebutuhan gambir India dipasok dari Indonesia termasuk Pakpak Bharat. “Jangankan India, pasar dalam negeri kita saja hingga kini masih kurang apalagi untuk ke depannya, permintaan gambir akan jauh lebih besar mengingat manfaat gambir yang begitu luar biasa,” terang Bupati.
Alasan itu juga yang membuat Bupati Remigo Yolanda menjadikan gambir sebagai salah satu produk unggulan Pakpak Bharat yang siap mengisi pasar internasional. “Pasar sudah ada, tinggal bagaimana kita memanfaatkan pasar tersebut. Karena itu kita harus mempersiapkan sektor hulunya dalam hal ini budidaya tanaman gambir. Sehingga permintaan gambir bisa terpenuhi engan baik,” kata Bupati optimis. (junita sianturi)
dikutip dari : www.medanbisnisdaily.com

